Menginvestasikan sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan adalah modal awal percepatan pembangunan di berbagai aspek suatu bangsa. Berbagai belahan dunia mengutamakan pendidikan sebagai dasar pijakan memberantas kemiskinan. Mengingat pendidikan adalah hal pokok yang harus diperhatikan oleh bangsa maka berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah pusat, pemeritah daaerah provinsi maupun pemerintah kabupaten. Dalam upaya mempersiapkan SDM yang handal, pemerintah berupaya mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Namun kenyataannya belum direalisasikan, sehingga menghambat dalam mempersiapkan SDM. Dalam rangka mewujudkan pendidikan yang bermutu sesuai dengan tuntutan masyarakat di era global serta perkembangan IPTEK yang telah membawa perubahan pada aspek kehidupan manusia termasuk aspek ekonomi, maka diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dalam arti sebagai insan berilmu pengetahuan, berketerampilan, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, bertanggungjawab dan berupaya mencapai kesejahteraan diri serta memberikan sumbangan terhadap keharmonisan dan kemakmuran keluarga, masyarakat, dan negara.
Perkembangan ekonomi dunia semakin hari semain kian membumi sampai pelosok. indonesia bagian dari komunitas dunia perluh membenah diri. Pada 2015 mendatang, kesepakatan Masyakarat Ekonomi ASEAN atau pasar bebas ASEAN mulai berlaku. Jika ingin tetap bisa bersaing, Indonesia harus berbenah. Sebab, daya saing beberapa sektor industri utama kita masih kalah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Simak topik # Pasar Bebas ASEAN (MEA) untuk menyimak berita-berita seputar ini
berita
Source: http://www.amronbadriza.com/2012/07/cara-membuat-judul-blog-bergerak.html#ixzz2HGOAa7ZG
Kamis, 19 April 2012
PERAN PEMUDA DALAM MENGISI PEMBANGUNAN ERA OTONOMI KHUSUS PROVINSI PAPUA
Berikan Aku 10 Pemuda Kugoncangkan Dunia
(Bung Karno)
Pemuda merupakan kreator pembangunan suatu bangsa. Itulah yang didiskusikan oleh mahasiswa KOMAPO di asrama Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pukul 18.00 waktu setempat. Hari jumat tepatnya tanggal 28 Oktober 2011 kita telah memperingati hari sumpa pemuda. Banyak kalangan baik itu akademisi, sejarahwan, sampai pejabat Negara menilai pemuda sekarang tidak ada taringnya, tetapi dulu perjuangan kemerdekaan sampai kemerdekaan dan lengsernya sukarno (orde lama) sampai orde baru, sangat antusias untuk mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemuda semasa orde baru karena dikontrol oleh diktator (pemerintahaan suharto) diwajibkan untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh pemerintah. Kemerdekaan Indonesia pun digerakan oleh pemuda Indonesia, kalo menelusuri sejarah pemuda Indonesia kita ketahui bahwa organisasi Budi utomo pada tahun 1928 dan pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada masa itu pro dan kotra yang sangat sengit antara organisasai pemuda yang diketuai oleh Chaerul Saleh dan kelompok tua diketuai oleh Bung Karno. Kelompok muda mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan indoesia, namun kelompok tua menolak karena berhanggapan bahwa jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Negara Indonesia. Pergerakan organisasi untuk mendesak agar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tidak lain adalah Tan Malaka sangat berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia. Pergerakan pemuda Indonesia masa kemerdekaan sampai masa orlam (orde lama), Orba (orde baru), dan sampai masa reformasi.
Masa reformasi, pemuda Indonesia sangat berperan penting untuk menumbangkan rezim Suharto pada tahun 1999 dengan peristiwa trisakti dan semangi sampai mengorbankan 4 orang mahasiswa ditembak oleh polisi. Pergolakan pemuda dan peran pemuda dalam pembangunan Indonesia mada masa reformasi sangat berperan penting untuk menyumbangkan pikiran,konsep sampai partisipasi dalam melaksanakan tugas sebagai warga Negara. Ketika bergulirnya demokrasi di tanh air banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini. Terutama persoalan wilayah teriorial dengan Negara tetangga seperti Singgapura (masalah selat malaka) dan Malaynisia. Persoalan budaya seperti tarian adat, pakaian adat pun diklaim oleh malaysinisia. Persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme pun meraja lela baik dari pemerintahaan pusat sampai pemerintahaan kampong. Para koruptor baik pejabat Negara, pejabat daerah pun melakukan tindakan korupsi. Namun sayangnya ketegakan hukum di Indonesia sangat rapuh, sehingga para koruptor dengan enaknya masuk keluar sel (tempat) tahanan bagi pejabat Negara ibarat tempat penginapan sementara bagi tikus-tikus koruptor di negeri tercinta ini. Di dalam kondisi yang sangat memprihatinkan ini, peran pemuda dalam mengambil tindakan, mengasa ketajaman intelektual, kreeator pembangunan, belum muncul ranah publik untuk melengser pejabat publik. Mahasiswa (pemuda) masa kini dihadapkan pada konsumerisme. Tidak melihat pada persoalan bangsa. Pemuda sekarang menjadi bingung karena dihadapkan pada instan. Para mahasiwa mengikuti acara bukan empat mata, acara 2 miliar di tv dan lain-lain yang sudah siap untuk meramaikan oleh mahasiswa. Mahsiswa(pemuda) konon adalah suatu pontensi bagi Negara sebagai armada bagi kemajuan bamgsa.peran pemuda sangatlah penting untuk mengisi pembangunan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Dalam situasi yang tumbuh dan berkembang di era globalisasi saat ini, menuntut peran katif pemuda sebagai kekuatan moral, control sosial dan sebagai agen perubahaan bagi semua aspek pembangunan nasional. Namun dilingkungan kampus sebagai basis pemuda belum ada tanda-tanda pengembangan kajian, jurnal ilmiah yang dibublikasikan sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil suatu kebijakan. Peran pemuda dikampus menciptakan kereatif, inofative untuk membangun kampus sebagai media belajar bagi semua orang. Dengan demikian tumbuh subur dalam mengembangkan
Bertolak dari sejarah masuknya bangsa papua masuk ke pangkuan Negara kesatuan republik Indonesia pada tahun 1962. Pada tahun 1963 masyarakat papua mersakan pendidikan seperti layaknya di daerah lain indonesia. Namun tidak semua anak daerah menngenjam ke perguruan tinggi karena dikuasai oleh para kolonialisme (indonesia). Pemuda-pemuda papua pada saat itu mendaptkan pendidikan hingga menamatkan ijasah kesarjanaan dan sekaligus pahlawan bangsa adalah mereka menjadi kepala daerah (gubernur) di papua (irian jaya) seperti Frans Kaisepo, Agup Zainal dan lainnya. Zaman berubah cepat roda pembangunan baik itu perekonomian, teknologi, masuknya budaya luar masuk ke papua.
Zaman semakin hari semakin berubah, kini dihadapkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Arus informasi semakin meluas ke segala penjuru tanah air. Masuknya perkemabngan teknologi membawa suatu perubahaan dan membawa suatu keburukan bagi masyarakat miskin yang tidak tau apa apa. Perubahan dari sisi positif adalah bahwa perkembangan pembangunan fisik, membuka isolasi, percepatan pembangunan ke seluruh pelosok papua. Masyarakat mengenal dunia luar, mengenal pendidikan, kesehatan, menata ekonomi, menatap masa depan. Diberikannya otonomi khsus bagi provinsi papua dan papua brat dengan UU no 21. Tahun 2011 bagi kedua provinsi. Pembangunan papua era otonomi khusus menjadi hal yang tabu bagi masyarakat awam.
Bagaimana dengan pemberdayaan pemuda papua? Tidak digubris hal ini pemerintah daerah tidak memperhatikan sehingga banyak pemuda menganggur di kampong seketika tamat SMA. Tamat SMA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena alasan uang biaya kuliah tidak ada. Pemuda desa nganggur di kampong tidak menikmati uang otonomi khusus yang pada tahun ini mencapai 28 triliun lebih. Pemerintah daerah dalam hal ini KNPI provinsi dan kabupaten tidak memberdayakan pemuda. Uang pemuda hanya digunakan oleh kepentingan pribadi. Ketua KNPI provinsi maupun kabupaten hanya mengenal kegiatan KNPI adalah menyelenggarakan kegiatan olahraga. Aneh jika hanya berpikiran demikian? mengutip dari suara Bung Karno di atas bahwa sejauh mana pemerintah daerah provinsi papua menyiapkan 10 pemuda papua untuk menggoncangkan dunia? Sejauh mana seluruh kabupaten di papua menyiapkan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Sejauh mana seluruh distrik di papua menyiapkan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Sejauh mana seluruh kampong yang tersebar di seluruh papua menyiapakan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Pertanyaan reflektif dan segaligus sindiran pemerintah provinsi sampai pemerintahaan kampong menjadi bahan refleksi untuk dapat memberikan yang terbaik dari yang baik dan merubah pandangan pemuda yang selama ini bagi mereka adalah sepak bola. Pandangan pemerintah daerah (KNPI) alias kuli bangunan pemerintah Indonesia uang pemuda yang dianggarkan oleh pemerintah hanya sebatas pada membeli kostum, membeli bola, dan pada akhirnya menyelenggarakan turnamen sepak bola, volli, basket dan lainnya.
Pemuda sebagai tulang punggung pembangunan perluh diberdayakan tentunya. Sejauh ini hemat penulis pemerintah daerah belum memberdayakan kepada pemuda kampong sampai pemuda yang sedang belajar. Uang pemuda yang dianggarkan diberdayakan SDM-nya melalui mentereningkan dan melakukan pelatihan-pelatihan seperti jurnalistik, mengemudi, bongkar pasang barang elektronik, belajar cara membuat kursi rotan, menjadi tukang bangunan dan lainnya. Banyak hal yang harus dilakukan oleh pemuda papua dengan memanfaatkan uang otonomi khusus yang ada.
Fransiskus Kasipmabin
(Bung Karno)
Pemuda merupakan kreator pembangunan suatu bangsa. Itulah yang didiskusikan oleh mahasiswa KOMAPO di asrama Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pukul 18.00 waktu setempat. Hari jumat tepatnya tanggal 28 Oktober 2011 kita telah memperingati hari sumpa pemuda. Banyak kalangan baik itu akademisi, sejarahwan, sampai pejabat Negara menilai pemuda sekarang tidak ada taringnya, tetapi dulu perjuangan kemerdekaan sampai kemerdekaan dan lengsernya sukarno (orde lama) sampai orde baru, sangat antusias untuk mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemuda semasa orde baru karena dikontrol oleh diktator (pemerintahaan suharto) diwajibkan untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh pemerintah. Kemerdekaan Indonesia pun digerakan oleh pemuda Indonesia, kalo menelusuri sejarah pemuda Indonesia kita ketahui bahwa organisasi Budi utomo pada tahun 1928 dan pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada masa itu pro dan kotra yang sangat sengit antara organisasai pemuda yang diketuai oleh Chaerul Saleh dan kelompok tua diketuai oleh Bung Karno. Kelompok muda mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan indoesia, namun kelompok tua menolak karena berhanggapan bahwa jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Negara Indonesia. Pergerakan organisasi untuk mendesak agar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tidak lain adalah Tan Malaka sangat berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia. Pergerakan pemuda Indonesia masa kemerdekaan sampai masa orlam (orde lama), Orba (orde baru), dan sampai masa reformasi.
Masa reformasi, pemuda Indonesia sangat berperan penting untuk menumbangkan rezim Suharto pada tahun 1999 dengan peristiwa trisakti dan semangi sampai mengorbankan 4 orang mahasiswa ditembak oleh polisi. Pergolakan pemuda dan peran pemuda dalam pembangunan Indonesia mada masa reformasi sangat berperan penting untuk menyumbangkan pikiran,konsep sampai partisipasi dalam melaksanakan tugas sebagai warga Negara. Ketika bergulirnya demokrasi di tanh air banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini. Terutama persoalan wilayah teriorial dengan Negara tetangga seperti Singgapura (masalah selat malaka) dan Malaynisia. Persoalan budaya seperti tarian adat, pakaian adat pun diklaim oleh malaysinisia. Persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme pun meraja lela baik dari pemerintahaan pusat sampai pemerintahaan kampong. Para koruptor baik pejabat Negara, pejabat daerah pun melakukan tindakan korupsi. Namun sayangnya ketegakan hukum di Indonesia sangat rapuh, sehingga para koruptor dengan enaknya masuk keluar sel (tempat) tahanan bagi pejabat Negara ibarat tempat penginapan sementara bagi tikus-tikus koruptor di negeri tercinta ini. Di dalam kondisi yang sangat memprihatinkan ini, peran pemuda dalam mengambil tindakan, mengasa ketajaman intelektual, kreeator pembangunan, belum muncul ranah publik untuk melengser pejabat publik. Mahasiswa (pemuda) masa kini dihadapkan pada konsumerisme. Tidak melihat pada persoalan bangsa. Pemuda sekarang menjadi bingung karena dihadapkan pada instan. Para mahasiwa mengikuti acara bukan empat mata, acara 2 miliar di tv dan lain-lain yang sudah siap untuk meramaikan oleh mahasiswa. Mahsiswa(pemuda) konon adalah suatu pontensi bagi Negara sebagai armada bagi kemajuan bamgsa.peran pemuda sangatlah penting untuk mengisi pembangunan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Dalam situasi yang tumbuh dan berkembang di era globalisasi saat ini, menuntut peran katif pemuda sebagai kekuatan moral, control sosial dan sebagai agen perubahaan bagi semua aspek pembangunan nasional. Namun dilingkungan kampus sebagai basis pemuda belum ada tanda-tanda pengembangan kajian, jurnal ilmiah yang dibublikasikan sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil suatu kebijakan. Peran pemuda dikampus menciptakan kereatif, inofative untuk membangun kampus sebagai media belajar bagi semua orang. Dengan demikian tumbuh subur dalam mengembangkan
Bertolak dari sejarah masuknya bangsa papua masuk ke pangkuan Negara kesatuan republik Indonesia pada tahun 1962. Pada tahun 1963 masyarakat papua mersakan pendidikan seperti layaknya di daerah lain indonesia. Namun tidak semua anak daerah menngenjam ke perguruan tinggi karena dikuasai oleh para kolonialisme (indonesia). Pemuda-pemuda papua pada saat itu mendaptkan pendidikan hingga menamatkan ijasah kesarjanaan dan sekaligus pahlawan bangsa adalah mereka menjadi kepala daerah (gubernur) di papua (irian jaya) seperti Frans Kaisepo, Agup Zainal dan lainnya. Zaman berubah cepat roda pembangunan baik itu perekonomian, teknologi, masuknya budaya luar masuk ke papua.
Zaman semakin hari semakin berubah, kini dihadapkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Arus informasi semakin meluas ke segala penjuru tanah air. Masuknya perkemabngan teknologi membawa suatu perubahaan dan membawa suatu keburukan bagi masyarakat miskin yang tidak tau apa apa. Perubahan dari sisi positif adalah bahwa perkembangan pembangunan fisik, membuka isolasi, percepatan pembangunan ke seluruh pelosok papua. Masyarakat mengenal dunia luar, mengenal pendidikan, kesehatan, menata ekonomi, menatap masa depan. Diberikannya otonomi khsus bagi provinsi papua dan papua brat dengan UU no 21. Tahun 2011 bagi kedua provinsi. Pembangunan papua era otonomi khusus menjadi hal yang tabu bagi masyarakat awam.
Bagaimana dengan pemberdayaan pemuda papua? Tidak digubris hal ini pemerintah daerah tidak memperhatikan sehingga banyak pemuda menganggur di kampong seketika tamat SMA. Tamat SMA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena alasan uang biaya kuliah tidak ada. Pemuda desa nganggur di kampong tidak menikmati uang otonomi khusus yang pada tahun ini mencapai 28 triliun lebih. Pemerintah daerah dalam hal ini KNPI provinsi dan kabupaten tidak memberdayakan pemuda. Uang pemuda hanya digunakan oleh kepentingan pribadi. Ketua KNPI provinsi maupun kabupaten hanya mengenal kegiatan KNPI adalah menyelenggarakan kegiatan olahraga. Aneh jika hanya berpikiran demikian? mengutip dari suara Bung Karno di atas bahwa sejauh mana pemerintah daerah provinsi papua menyiapkan 10 pemuda papua untuk menggoncangkan dunia? Sejauh mana seluruh kabupaten di papua menyiapkan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Sejauh mana seluruh distrik di papua menyiapkan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Sejauh mana seluruh kampong yang tersebar di seluruh papua menyiapakan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Pertanyaan reflektif dan segaligus sindiran pemerintah provinsi sampai pemerintahaan kampong menjadi bahan refleksi untuk dapat memberikan yang terbaik dari yang baik dan merubah pandangan pemuda yang selama ini bagi mereka adalah sepak bola. Pandangan pemerintah daerah (KNPI) alias kuli bangunan pemerintah Indonesia uang pemuda yang dianggarkan oleh pemerintah hanya sebatas pada membeli kostum, membeli bola, dan pada akhirnya menyelenggarakan turnamen sepak bola, volli, basket dan lainnya.
Pemuda sebagai tulang punggung pembangunan perluh diberdayakan tentunya. Sejauh ini hemat penulis pemerintah daerah belum memberdayakan kepada pemuda kampong sampai pemuda yang sedang belajar. Uang pemuda yang dianggarkan diberdayakan SDM-nya melalui mentereningkan dan melakukan pelatihan-pelatihan seperti jurnalistik, mengemudi, bongkar pasang barang elektronik, belajar cara membuat kursi rotan, menjadi tukang bangunan dan lainnya. Banyak hal yang harus dilakukan oleh pemuda papua dengan memanfaatkan uang otonomi khusus yang ada.
Fransiskus Kasipmabin
INDUSTRI MEDIA DIKELAMKAN
Oleh Fransiskus Kasipmabin
Filsuf Ingiris Bertrad Russell, memberi nasihat kepada mahasiswanya “lakukanlah pengamatan sendiri. Seharusnya Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraan bahwa wanita mempunyai jumlah gigi yang lebih sedikit dari pria andaikan ia mau meminta istrinya untuk membuka mulutnya dan menghitungnya sendiri. Menganggap bahwa kita tahu, padahal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan.
Menurut seorang wartawan Tabloit Jubi Papua yang pernah menulis dan dimuat di bloknya sekitar bulan september 2011 bahwa ada seorang teman wartawan pernah menerima amplop dari seseorang pejabat teras Papua. Masalah amplop tidak asing bagi wartawan media-media lokal di Papua. Mengapa harus demikian? Menurut hemat penulis keprofesionalismenya belum ada dan wartawan menyampaikan berita atas dasar kebenaran tidak ada karena disokong dari para pejabat yang notabene takut namanya tercemar di masyarakat umum. Menerima amplop, dengan sendirinya melemahkan kekuatan wartawan. Kekuatan wartawan di sini bahwa apa yang dipikirkan, dirasakan, dilihat, didengar dan terutama keluar dari sembilan elemen jurnalisme menurut Bill Kovach dan Rosentiel. Selain itu, kemungkinan terjadi karena gaji wartawan yang bekerja di beberapa koran lokal di Papua tidak dibayarkan dari perusahaannya, sehingga wartawan melakukan perbuatan demikian. Namun di balik misteri terselubung itu, seharusnya seorang wartawan sebagai seorang independen yang tidak memihak kepada siapa-siapa, tetapi loyalitas wartawan pada kebenaran. Memperkuat pernyataan di atas menurut ketua Forum Komunikasi Mahasiswa dan Pelajar Katolik Papua Daerah DIY dan Jawa Tengah dalam diskusi menyikapi masalah kekerasan di Papua terutama masalah di Timika bahwa media-media lokal di Papua menyampaikan berita kriminal dan atau kasus kekerasan dari aparat keaman (TNI, POLRI,) kepada warga sipil tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Mereka (wartawan) menyampaikan seharusnya menjadi tidak seharusnya. Hal ini tentu sangat prihatin. Prihatin karena para wartawan menulis tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Semua ini terjadi karena kelalaian wartawan atau kebijakan dari direktur perusahaan. Kebijakan dari direktur perusahaan kemungkinan bisa terjadi karena direktur mencari profit. Korporasi-korporasi atau industri media yang ada di Papua dipegang atau dikelola oleh orang asing.
Berbicara jurnalistik pasti akan mengenal sembilan elemen jurnalisme yang ditawarkan oleh Bill Kovach dan Rosenstiel.
1. Kebenaran adalah hal pokok yang harus diperhatikan dalam jurnalistik. Menyampaikan kebenaran kepada publik menjadi prioritas para wartawan.
2. Loyalitas kepada masyarakat dapat diprioritaskan karena menyangkut masalah publik bukan karena kepentingan individualistik.
3. Mementingkan kepentingan umum adalah loyalitas pertama.
4. Disiplin seorang wartawan untuk melakukan perifikasi.
5. Untuk mengetahui apakah yang ditulis itu benar atau tidak, perluh ada pengkajian ulang terhadap suatu objek atau hal dari berbagai sumber untuk memperkuat atas suatu hal yang kita tulis.
6. Seorang wartawan dalam tugasnya adalah bebas atau kebebasan dalam peliputan. Bebas disi berpikir, bebas untuk bertindak, bebas untuk menelaa objek yang dituju. Kebebasan dari sumber yang mereka liput.
7. Selain kebebasan untuk meliput, para wartawan juga sebagai pengontrol keluasaan atas kebijakan peguasa atau pemerintah. Wartwan adalah penjaga watchdog.
8. Elemen berikut adalah menyediakan forum untuk kritik dan saran bagi sebuah karya. Selain menyediakan forum, wartawan juga menulis berita atau sebuah tulisan harus menarik dan relefan sehingga para pembaca dapat dengan mudah memahami isi tulisan tersebut. Maksud relefan disini adalah bahwa sesuai dengan apa yang wartawan tulis. Berita juga proforsional dan komprehensip sehingga masyarakat mengikuti berita atau tulisan tersebut dan masyrakat dapat melakukannya.
9. Hal mendasar bagi seorang wartawan adalah mendengarkan suara hati. Tulislah apa yang dirasa baik dan benar dan dapat bermakna bagi kalayak umum.
Berpikir skeptis adalah hal mendasar bagi seorang wartawan. Skeptis itulah ciri utama atau khas jurnalisme. Dengan demikian berpikirlah skeptis. Karena segala sesuatu pasti berpikir ombang ambing dalam pengambilan keputusan. Tom Frietmand dari Newyork Times mengatakan skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Contoh orang skeptis : saya kira itu tidak benar, saya akan mengeceknya, itu tidak mungkin. Lain halnya dengan sikap sinis. Contohnya saya yakin itu tidak benar, itu tidak mungkin, saya akan menolaknya. Bertindak dan action merupakan ciri khas wartawan. Namun hal ini kurang dilakukan oleh wartawan. Para wartawan kita memperkuat data mereka menelepon ke pihak-pihak yang dikatakan terlibat dalam sebuah kejadian atau mendapatkan opini. Wartawan tidak menungggu sampai peristiwa itu muncul, tapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan. Sayang sekali ketika wartawan tidak melakukan demikian.
Para wartawan yang bekerja di Papua mereka jarang sekali melakukan action di daerah pedalaman pegunungan Papua yang notabene dengan basis kekerasan. Wartawan tidak langsung ke lapangan dan melakukan liputan. Bagaimana mungkin berita yang dikatan benar dan akurat bisa dimuat di Bintang Papua, Cenderawasih Pos. Papua Post dan koran local lainnya. Misalkan saja kita ketahui bersama bahwa sekecilpun para wartawan belum masuk di Pegunungan Bintang kabupaten pemekaran dari Jayawijaya khususnya dan daerah lain secara umum mereka meliput di sana. Beberapa bulan yang lalu berita dari Begununan Bintang muat di Papua Pos berkenaan dengan hari hulang tahun kabupaten yang ke-8. Isi berita tersebut menyampaikan kesuksesan saja tetapi kendala-kendala dan persoalan yang di hadapi oleh pemerintah daerah, masyarakat sekitar akibat perluasan pembangunan fisik, kekerasan yang dilakukan oleh TNI dan POLRI yang bertugas di Oksibil terhadap warga setempat belum disampaikan. Bagaimana mungkin orang lain membantu kita, jika kita menutup diri dari berbagai persoalan? Kesuksesan tidak semua tetapi sedikitpun dibesar-besarkan? Seperti yang disampaikan oleh Drs. Welington Wenda selaku Bupati Pegunungan Bintang di Papuapos. Kalau kita jelih melihat secara baik dan benar dan para wartawan langsung turun ke lapangan pasti dijemput dengan berbagai masalah.
Bill kovach dan rosentiel mengemukakan dalam bukunya yang dikutip oleh Luwi Ishwara disampaikan bahwa jurnalisme mendorong suatu perubahan. Theodore Jay Gordon dari Future Group di Noank, Connecticut bahwa ada empat kekuatan yang mengubah paskah industrialisasi: (1) munculnya abad computer dan dominasi elektronika; (2) globalisasi dari komunikasi, di mana georgafi menjadi kurang penting; (3) perubahan demografi terutama pertambahan orang-orang yang berumur di atas 40 tahun; dan (4) perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Namun demikian, wartawan di Papua belum sadarai. Para wartawan perlu sadari bahwa berjurnalis mendorong suatu perubahan. Dengan teknologi yang ada para wartawan mengunakan sebaik-baiknya dan mengekspous ke publik sehingga orang lain bisa tahu dan membantu kita jika ada kekurangan.
Menjadi wartawan tidaklah gampang. Karena terpanggil menjadi wartawan tidak semuda dibayangkan oleh banyak orang. Menjadi wartawan adalah tujuan muliah. Paus Johanes Paulus II mengatakan: “dengan pengaruh yang luas dan langsung terhadap opini masyarakat, jurnalisme tidak bisa dipandu hanya oleh kekuatan ekonomi, keuntungan dan kepentingan khusus. Jurnalisme haruslah diresapi sebagai tugas suci, dijalankan dengan kesadaran bahwa sarana komunikasi yang sangat kuat telah dipercayakan kepada anda demi kebaikan orang banyak”. Beda dengan pendapat James c. Thomson Jr., Kurartor Nieman Foundation, mengatakan bahwa surat kabar harus mengoperasikan keduannya: mendapatkan uang (setidaknya tidak rugi) dan berbuat baik (mengungkapakan ketidakadilan dengan demikian memperbaiki masyarakat). Kemampuan wartawan dalam kecepatan menulis berita, dan berita tersebut akurat, jujur terhadap kebenaran belum sepenuhnya dilakukan oleh wartawan-wartwan di Indonesia dan Papua pada khususnya. Akurat berarti kita harus mendapatkan informasi yang pasti, yang tidak bisa dibanta. Menjadi wartawan sejati pasti melalui proses setidaknya pendidikan dasar tentang jurnalisme. Pendidikan dasar jurnalis di Indonesia sangat kurang dibandingkan negara tetangga. Pendidikan komunikasi sangat penting untuk mengajarkan kepada mahasiswa yang ingin menjadi wartawan. Pendidikan jurnalis di Papua barangkali belum mendengar dan merasakan bahwa menjadi wartawan harus memproses diri dalam pendidikan, terutama pendidikan tentang jurnalisme. Para penulis yang pernah muncul dari Papua berawal ketika motivasi itu timbul dari diri sendiri. Belum ada dasar yang kuat diperoleh dari orang tua, sehingga cita-cita menjadi wartawan seketika ia mengalami proses pendidikan di perguruan tinggi. Oleh sebab itu ruang untuk berporoses semakin sempit dan pada akhirnya menjadi buntu menghadapi tantangan dan atau persoalan.
Untuk mengangkat kembali persoalan atau potret buram industry media di Papua perlu membuka pendidikan jurnalis di Papua sehingga orang asli Papua yang ingin kuliah di jurnalis bisa mendalami ilmunya. Mendapatkan pendidikan, memproses diri, mengalami, memahami, dan pada akhirnya membongkar persoalan, membebaskan akar ketidakadilan, membuka wacana publik memberikan rekomendasi kepada pihak terkait sehingga pada akhirnya pemerintah maupun swasta mengambil kebijakan dengan baik sesuai dengan kebutuhan yang ada. Berbicara pendidikan jurnalis kadangkala membingungkan karena pendidikan jurnalis di Jawa saja belum sebanyak Thailand. Kalau hitung-hitung atau ibarat pendidikan jurnalis di Indonesia ada (3) sedangkan di Thailand ada 5. Sekolah jurnalis di Indonesia masi beroperasi di Pulau Jawa sedangkan di luar Pulau Jawa belum. Dari 69 sekolah jurnalis di Indonesia semua berada di Pulau Jawa, sedangkan di Wilaya Indonesia Timur belum ada (andreas harsono/luwi ishwara).
Tulisan ini disampaikan pada pendidikan dasar jurnalistik (DIKDAS-1) anggota baru KOMAPOnews 2011/2012 di Realino Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Filsuf Ingiris Bertrad Russell, memberi nasihat kepada mahasiswanya “lakukanlah pengamatan sendiri. Seharusnya Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraan bahwa wanita mempunyai jumlah gigi yang lebih sedikit dari pria andaikan ia mau meminta istrinya untuk membuka mulutnya dan menghitungnya sendiri. Menganggap bahwa kita tahu, padahal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan.
Menurut seorang wartawan Tabloit Jubi Papua yang pernah menulis dan dimuat di bloknya sekitar bulan september 2011 bahwa ada seorang teman wartawan pernah menerima amplop dari seseorang pejabat teras Papua. Masalah amplop tidak asing bagi wartawan media-media lokal di Papua. Mengapa harus demikian? Menurut hemat penulis keprofesionalismenya belum ada dan wartawan menyampaikan berita atas dasar kebenaran tidak ada karena disokong dari para pejabat yang notabene takut namanya tercemar di masyarakat umum. Menerima amplop, dengan sendirinya melemahkan kekuatan wartawan. Kekuatan wartawan di sini bahwa apa yang dipikirkan, dirasakan, dilihat, didengar dan terutama keluar dari sembilan elemen jurnalisme menurut Bill Kovach dan Rosentiel. Selain itu, kemungkinan terjadi karena gaji wartawan yang bekerja di beberapa koran lokal di Papua tidak dibayarkan dari perusahaannya, sehingga wartawan melakukan perbuatan demikian. Namun di balik misteri terselubung itu, seharusnya seorang wartawan sebagai seorang independen yang tidak memihak kepada siapa-siapa, tetapi loyalitas wartawan pada kebenaran. Memperkuat pernyataan di atas menurut ketua Forum Komunikasi Mahasiswa dan Pelajar Katolik Papua Daerah DIY dan Jawa Tengah dalam diskusi menyikapi masalah kekerasan di Papua terutama masalah di Timika bahwa media-media lokal di Papua menyampaikan berita kriminal dan atau kasus kekerasan dari aparat keaman (TNI, POLRI,) kepada warga sipil tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Mereka (wartawan) menyampaikan seharusnya menjadi tidak seharusnya. Hal ini tentu sangat prihatin. Prihatin karena para wartawan menulis tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Semua ini terjadi karena kelalaian wartawan atau kebijakan dari direktur perusahaan. Kebijakan dari direktur perusahaan kemungkinan bisa terjadi karena direktur mencari profit. Korporasi-korporasi atau industri media yang ada di Papua dipegang atau dikelola oleh orang asing.
Berbicara jurnalistik pasti akan mengenal sembilan elemen jurnalisme yang ditawarkan oleh Bill Kovach dan Rosenstiel.
1. Kebenaran adalah hal pokok yang harus diperhatikan dalam jurnalistik. Menyampaikan kebenaran kepada publik menjadi prioritas para wartawan.
2. Loyalitas kepada masyarakat dapat diprioritaskan karena menyangkut masalah publik bukan karena kepentingan individualistik.
3. Mementingkan kepentingan umum adalah loyalitas pertama.
4. Disiplin seorang wartawan untuk melakukan perifikasi.
5. Untuk mengetahui apakah yang ditulis itu benar atau tidak, perluh ada pengkajian ulang terhadap suatu objek atau hal dari berbagai sumber untuk memperkuat atas suatu hal yang kita tulis.
6. Seorang wartawan dalam tugasnya adalah bebas atau kebebasan dalam peliputan. Bebas disi berpikir, bebas untuk bertindak, bebas untuk menelaa objek yang dituju. Kebebasan dari sumber yang mereka liput.
7. Selain kebebasan untuk meliput, para wartawan juga sebagai pengontrol keluasaan atas kebijakan peguasa atau pemerintah. Wartwan adalah penjaga watchdog.
8. Elemen berikut adalah menyediakan forum untuk kritik dan saran bagi sebuah karya. Selain menyediakan forum, wartawan juga menulis berita atau sebuah tulisan harus menarik dan relefan sehingga para pembaca dapat dengan mudah memahami isi tulisan tersebut. Maksud relefan disini adalah bahwa sesuai dengan apa yang wartawan tulis. Berita juga proforsional dan komprehensip sehingga masyarakat mengikuti berita atau tulisan tersebut dan masyrakat dapat melakukannya.
9. Hal mendasar bagi seorang wartawan adalah mendengarkan suara hati. Tulislah apa yang dirasa baik dan benar dan dapat bermakna bagi kalayak umum.
Berpikir skeptis adalah hal mendasar bagi seorang wartawan. Skeptis itulah ciri utama atau khas jurnalisme. Dengan demikian berpikirlah skeptis. Karena segala sesuatu pasti berpikir ombang ambing dalam pengambilan keputusan. Tom Frietmand dari Newyork Times mengatakan skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Contoh orang skeptis : saya kira itu tidak benar, saya akan mengeceknya, itu tidak mungkin. Lain halnya dengan sikap sinis. Contohnya saya yakin itu tidak benar, itu tidak mungkin, saya akan menolaknya. Bertindak dan action merupakan ciri khas wartawan. Namun hal ini kurang dilakukan oleh wartawan. Para wartawan kita memperkuat data mereka menelepon ke pihak-pihak yang dikatakan terlibat dalam sebuah kejadian atau mendapatkan opini. Wartawan tidak menungggu sampai peristiwa itu muncul, tapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan. Sayang sekali ketika wartawan tidak melakukan demikian.
Para wartawan yang bekerja di Papua mereka jarang sekali melakukan action di daerah pedalaman pegunungan Papua yang notabene dengan basis kekerasan. Wartawan tidak langsung ke lapangan dan melakukan liputan. Bagaimana mungkin berita yang dikatan benar dan akurat bisa dimuat di Bintang Papua, Cenderawasih Pos. Papua Post dan koran local lainnya. Misalkan saja kita ketahui bersama bahwa sekecilpun para wartawan belum masuk di Pegunungan Bintang kabupaten pemekaran dari Jayawijaya khususnya dan daerah lain secara umum mereka meliput di sana. Beberapa bulan yang lalu berita dari Begununan Bintang muat di Papua Pos berkenaan dengan hari hulang tahun kabupaten yang ke-8. Isi berita tersebut menyampaikan kesuksesan saja tetapi kendala-kendala dan persoalan yang di hadapi oleh pemerintah daerah, masyarakat sekitar akibat perluasan pembangunan fisik, kekerasan yang dilakukan oleh TNI dan POLRI yang bertugas di Oksibil terhadap warga setempat belum disampaikan. Bagaimana mungkin orang lain membantu kita, jika kita menutup diri dari berbagai persoalan? Kesuksesan tidak semua tetapi sedikitpun dibesar-besarkan? Seperti yang disampaikan oleh Drs. Welington Wenda selaku Bupati Pegunungan Bintang di Papuapos. Kalau kita jelih melihat secara baik dan benar dan para wartawan langsung turun ke lapangan pasti dijemput dengan berbagai masalah.
Bill kovach dan rosentiel mengemukakan dalam bukunya yang dikutip oleh Luwi Ishwara disampaikan bahwa jurnalisme mendorong suatu perubahan. Theodore Jay Gordon dari Future Group di Noank, Connecticut bahwa ada empat kekuatan yang mengubah paskah industrialisasi: (1) munculnya abad computer dan dominasi elektronika; (2) globalisasi dari komunikasi, di mana georgafi menjadi kurang penting; (3) perubahan demografi terutama pertambahan orang-orang yang berumur di atas 40 tahun; dan (4) perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Namun demikian, wartawan di Papua belum sadarai. Para wartawan perlu sadari bahwa berjurnalis mendorong suatu perubahan. Dengan teknologi yang ada para wartawan mengunakan sebaik-baiknya dan mengekspous ke publik sehingga orang lain bisa tahu dan membantu kita jika ada kekurangan.
Menjadi wartawan tidaklah gampang. Karena terpanggil menjadi wartawan tidak semuda dibayangkan oleh banyak orang. Menjadi wartawan adalah tujuan muliah. Paus Johanes Paulus II mengatakan: “dengan pengaruh yang luas dan langsung terhadap opini masyarakat, jurnalisme tidak bisa dipandu hanya oleh kekuatan ekonomi, keuntungan dan kepentingan khusus. Jurnalisme haruslah diresapi sebagai tugas suci, dijalankan dengan kesadaran bahwa sarana komunikasi yang sangat kuat telah dipercayakan kepada anda demi kebaikan orang banyak”. Beda dengan pendapat James c. Thomson Jr., Kurartor Nieman Foundation, mengatakan bahwa surat kabar harus mengoperasikan keduannya: mendapatkan uang (setidaknya tidak rugi) dan berbuat baik (mengungkapakan ketidakadilan dengan demikian memperbaiki masyarakat). Kemampuan wartawan dalam kecepatan menulis berita, dan berita tersebut akurat, jujur terhadap kebenaran belum sepenuhnya dilakukan oleh wartawan-wartwan di Indonesia dan Papua pada khususnya. Akurat berarti kita harus mendapatkan informasi yang pasti, yang tidak bisa dibanta. Menjadi wartawan sejati pasti melalui proses setidaknya pendidikan dasar tentang jurnalisme. Pendidikan dasar jurnalis di Indonesia sangat kurang dibandingkan negara tetangga. Pendidikan komunikasi sangat penting untuk mengajarkan kepada mahasiswa yang ingin menjadi wartawan. Pendidikan jurnalis di Papua barangkali belum mendengar dan merasakan bahwa menjadi wartawan harus memproses diri dalam pendidikan, terutama pendidikan tentang jurnalisme. Para penulis yang pernah muncul dari Papua berawal ketika motivasi itu timbul dari diri sendiri. Belum ada dasar yang kuat diperoleh dari orang tua, sehingga cita-cita menjadi wartawan seketika ia mengalami proses pendidikan di perguruan tinggi. Oleh sebab itu ruang untuk berporoses semakin sempit dan pada akhirnya menjadi buntu menghadapi tantangan dan atau persoalan.
Untuk mengangkat kembali persoalan atau potret buram industry media di Papua perlu membuka pendidikan jurnalis di Papua sehingga orang asli Papua yang ingin kuliah di jurnalis bisa mendalami ilmunya. Mendapatkan pendidikan, memproses diri, mengalami, memahami, dan pada akhirnya membongkar persoalan, membebaskan akar ketidakadilan, membuka wacana publik memberikan rekomendasi kepada pihak terkait sehingga pada akhirnya pemerintah maupun swasta mengambil kebijakan dengan baik sesuai dengan kebutuhan yang ada. Berbicara pendidikan jurnalis kadangkala membingungkan karena pendidikan jurnalis di Jawa saja belum sebanyak Thailand. Kalau hitung-hitung atau ibarat pendidikan jurnalis di Indonesia ada (3) sedangkan di Thailand ada 5. Sekolah jurnalis di Indonesia masi beroperasi di Pulau Jawa sedangkan di luar Pulau Jawa belum. Dari 69 sekolah jurnalis di Indonesia semua berada di Pulau Jawa, sedangkan di Wilaya Indonesia Timur belum ada (andreas harsono/luwi ishwara).
Tulisan ini disampaikan pada pendidikan dasar jurnalistik (DIKDAS-1) anggota baru KOMAPOnews 2011/2012 di Realino Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
MENGUNGKAP REALITA KEHIDUPAN MASYARAKAT OKBI
Oleh: Ruben Tepmul (Pemuda Distrik Okbi)
Membangun suatu daerah tidak terlepas dari peran serta pemuda-pemudi dalam menggerakkan roda pembangunan. Untuk itu, pada kesempatan ini saya mewakili teman-teman pemuda-pemudi dan masyarakat Okbi ingin mengungkap beberapa fakta-fakta di Distrik Okbi. Realita hidup ini menjadi catatan penting untuk diperhatikan dan dilakukan langkah-langkah kongkrit oleh pihak-pihak yang berwajib. Berikut adalah fakta-faktanya:
Pemerintahan Distrik
Fakta pertama, Pada tanggal 25 Agustus 2010 pelantikan kepala distrik Okbi tepatnya di lapangan sepak bola Distrik Okbi. Usai pelantikan kepala distrik tersebut ia pernah berjanji bahwa “ selama saya menjabat sebagai Kepala Distrik Okbi, masyarakat tidak akan makan ubi (Boneng), saya akan datangkan beras raskin setiap minggu/bulan. Tetapi kenyataannya sampai sekarang janjinya belum ditepati. Fakta kedua, sejak dilantiknya kepala distrik tersebut dana insentif dan ULP tidak lancar sehingga sehingga pegawai sudah tidak beta lagi bekerja di kantor distrik. Fakta ketiga, tanpa sepengetahuan staf distrik, kepala distrik memindahkan tempat tugas stafnya ke tempat lain. Kami berharap pihak berwajib segera mengevaluasi kinerja Kepala Distrik Okbi.
Politik
a. Pada saat kampanye Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang periode 2011-2015, tanggal 5 Oktober 2010 tepatnya di lapangan sepak bola Distrik Okbi, Drs. Welington L Wenda M.Si pernah berjanji bahwa“ kalau saya dipilih lagi menjadi Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, saya tidak membangun dari kabupaten ke distrik tetapi saya akan membangun dari distrik ke kabupaten. Berdasarkan konsep ini, saya akan bangun jalan raya dari distrik Okbi ke Oksibil“. Sudah mau memasuki tahun 2012 belum ada tanda-tanda konkrit yang kami lihat. Untuk itu, kami masyarakat Disrik Okbi menunggu bukti dan bukan kata-kata politik belaka.
b. Kami perlu mengungkapkan fakta yang sejujurnya bahwa setiap kampanye politik di Distrik Okbi, banyak janji-janji manis yang keluar dari mulut politikus-politikus. Sejak hadirnya Kabupaten Pegunungan Bintang, peran DPRD belum terlihat dan tidak ada keterwakilan yang nyata. DPRD yang notabenenya perwakilan masyarakat tetapi mereka tidak memberikan kontribusi yang positif . Tempat tinggal dan fungsi tugas DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang tidak jelas. Dampaknya kami masyarakat Okbi tidak ada ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Kesehatan
Keberadaan Kepala Puskemas Abmisibil patut dipertanyakan. Sejak ditugaskan sampai sekarang Kepala Puskesmas tersebut masyarakat tidak tahu di mana tempat tinggal dan tempat tugasnya. Tidak ada komunikasi yang baik dengan stafnya membuat banyak kendala yang mereka hadapi salah satunya adalah keterlambatan pemberian hak-hak stafnya. Lebih ironisnya, banyak fasilitas kesehatan belum terpenuhi. Sebenarnya fasilitas seperti obat-obatan dan perlengkapan lainnya sudah disiapkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang tetapi hanya ulah kepala puskesmas yang tidak urus untuk angkut ke puskesmas Abmisibil. Dampaknya, masyarakat tidak mendapat pelayanan kesehatan yang selayaknya.
Pendidikan
Kondisi pendidikan di Distrik Okbibab perlu saya gambarkan bahwa kendala yang selalu terjadi adalah kurangnya tenaga pengajar atau guru dan fasilitas pendidikan. Di SMA Okbi terdapat 21 guru tetapi yang berada di tempat hanya 4 orang guru sedangkan yang lainnya pergi dan menetap di Jayapura. Di SMP juga sama, banyak guru yang tidak berada di tempat tugas disamping itu kepemimpinan kepala sekolah yang tidak jelas, mengakibatkan guru-guru SMP meninggalkan tugas dan bersarang di Jayapura. Kami belum tahu siapa sebenarnya kepala sekolah SMP Okbibab?. Kami masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah konkrit untuk menyelesaikan persoalan ini. Dampak dari persoalan ini, siswa-siswa tidak mendapatkan pendidikan yang layak sehingga kualitas outputnya rendah. Kami berharap kepala dinas pendidikan segera mengevaluasi sekolah-sekolah di Distrik Okbi
Kerinduhan Masyarakat terhadap Putra daerah Okbi
Sudah banyak kaum intelektuel dari Distrik Okbi yang kerja di legislatif dan eksekutif di Kabupaten Pegunungan Bintang tetapi mereka belum pernah menginjaki kaki di tanah kelahirannya. Tahun demi tahun sudah terlewati menunggu kehadiran mereka di tengah-tengah kami untuk satukan pikiran dan melakukan suatu tindakan nyata demi pembangunan daerah namun sampai sekarang mereka belum pernah hadir di tengah-tengah kami dan memberikan suatu kontribusi positif. Kami belum tahu tempat tinggal mereka yang sebenarnya, apakah mereka di Oksibil? Jayapura? atau Jakarta?. Ada beberapa kaum intelektual asal Distrik Okbi yang pernah datang ke tanah kelahirannya tetapi hanya untuk kepentingan politik belaka, menjadikan kami sebagai objek politik untuk kepentingan perut-perut mereka yang tentunya setelah berhasil mereka berfoya-foya di kota tanpa memikirkan dan mempedulikan masyarakat.
Penulis adalah Pemuda Distrik Okbi
Kabupaten Pegunungan Bintang
Papua
Membangun suatu daerah tidak terlepas dari peran serta pemuda-pemudi dalam menggerakkan roda pembangunan. Untuk itu, pada kesempatan ini saya mewakili teman-teman pemuda-pemudi dan masyarakat Okbi ingin mengungkap beberapa fakta-fakta di Distrik Okbi. Realita hidup ini menjadi catatan penting untuk diperhatikan dan dilakukan langkah-langkah kongkrit oleh pihak-pihak yang berwajib. Berikut adalah fakta-faktanya:
Pemerintahan Distrik
Fakta pertama, Pada tanggal 25 Agustus 2010 pelantikan kepala distrik Okbi tepatnya di lapangan sepak bola Distrik Okbi. Usai pelantikan kepala distrik tersebut ia pernah berjanji bahwa “ selama saya menjabat sebagai Kepala Distrik Okbi, masyarakat tidak akan makan ubi (Boneng), saya akan datangkan beras raskin setiap minggu/bulan. Tetapi kenyataannya sampai sekarang janjinya belum ditepati. Fakta kedua, sejak dilantiknya kepala distrik tersebut dana insentif dan ULP tidak lancar sehingga sehingga pegawai sudah tidak beta lagi bekerja di kantor distrik. Fakta ketiga, tanpa sepengetahuan staf distrik, kepala distrik memindahkan tempat tugas stafnya ke tempat lain. Kami berharap pihak berwajib segera mengevaluasi kinerja Kepala Distrik Okbi.
Politik
a. Pada saat kampanye Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang periode 2011-2015, tanggal 5 Oktober 2010 tepatnya di lapangan sepak bola Distrik Okbi, Drs. Welington L Wenda M.Si pernah berjanji bahwa“ kalau saya dipilih lagi menjadi Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, saya tidak membangun dari kabupaten ke distrik tetapi saya akan membangun dari distrik ke kabupaten. Berdasarkan konsep ini, saya akan bangun jalan raya dari distrik Okbi ke Oksibil“. Sudah mau memasuki tahun 2012 belum ada tanda-tanda konkrit yang kami lihat. Untuk itu, kami masyarakat Disrik Okbi menunggu bukti dan bukan kata-kata politik belaka.
b. Kami perlu mengungkapkan fakta yang sejujurnya bahwa setiap kampanye politik di Distrik Okbi, banyak janji-janji manis yang keluar dari mulut politikus-politikus. Sejak hadirnya Kabupaten Pegunungan Bintang, peran DPRD belum terlihat dan tidak ada keterwakilan yang nyata. DPRD yang notabenenya perwakilan masyarakat tetapi mereka tidak memberikan kontribusi yang positif . Tempat tinggal dan fungsi tugas DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang tidak jelas. Dampaknya kami masyarakat Okbi tidak ada ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Kesehatan
Keberadaan Kepala Puskemas Abmisibil patut dipertanyakan. Sejak ditugaskan sampai sekarang Kepala Puskesmas tersebut masyarakat tidak tahu di mana tempat tinggal dan tempat tugasnya. Tidak ada komunikasi yang baik dengan stafnya membuat banyak kendala yang mereka hadapi salah satunya adalah keterlambatan pemberian hak-hak stafnya. Lebih ironisnya, banyak fasilitas kesehatan belum terpenuhi. Sebenarnya fasilitas seperti obat-obatan dan perlengkapan lainnya sudah disiapkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang tetapi hanya ulah kepala puskesmas yang tidak urus untuk angkut ke puskesmas Abmisibil. Dampaknya, masyarakat tidak mendapat pelayanan kesehatan yang selayaknya.
Pendidikan
Kondisi pendidikan di Distrik Okbibab perlu saya gambarkan bahwa kendala yang selalu terjadi adalah kurangnya tenaga pengajar atau guru dan fasilitas pendidikan. Di SMA Okbi terdapat 21 guru tetapi yang berada di tempat hanya 4 orang guru sedangkan yang lainnya pergi dan menetap di Jayapura. Di SMP juga sama, banyak guru yang tidak berada di tempat tugas disamping itu kepemimpinan kepala sekolah yang tidak jelas, mengakibatkan guru-guru SMP meninggalkan tugas dan bersarang di Jayapura. Kami belum tahu siapa sebenarnya kepala sekolah SMP Okbibab?. Kami masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah konkrit untuk menyelesaikan persoalan ini. Dampak dari persoalan ini, siswa-siswa tidak mendapatkan pendidikan yang layak sehingga kualitas outputnya rendah. Kami berharap kepala dinas pendidikan segera mengevaluasi sekolah-sekolah di Distrik Okbi
Kerinduhan Masyarakat terhadap Putra daerah Okbi
Sudah banyak kaum intelektuel dari Distrik Okbi yang kerja di legislatif dan eksekutif di Kabupaten Pegunungan Bintang tetapi mereka belum pernah menginjaki kaki di tanah kelahirannya. Tahun demi tahun sudah terlewati menunggu kehadiran mereka di tengah-tengah kami untuk satukan pikiran dan melakukan suatu tindakan nyata demi pembangunan daerah namun sampai sekarang mereka belum pernah hadir di tengah-tengah kami dan memberikan suatu kontribusi positif. Kami belum tahu tempat tinggal mereka yang sebenarnya, apakah mereka di Oksibil? Jayapura? atau Jakarta?. Ada beberapa kaum intelektual asal Distrik Okbi yang pernah datang ke tanah kelahirannya tetapi hanya untuk kepentingan politik belaka, menjadikan kami sebagai objek politik untuk kepentingan perut-perut mereka yang tentunya setelah berhasil mereka berfoya-foya di kota tanpa memikirkan dan mempedulikan masyarakat.
Penulis adalah Pemuda Distrik Okbi
Kabupaten Pegunungan Bintang
Papua
MENTALITAS WIRAUSAHA ORANG PAPUA PEGUNUNGAN BINTANG ERA OTSUS
Oleh Fransiskus Kasipmabin
Suatu ketika Pace Yaklep menghubungi (melalui kontak person) kepada orang tuannya di kampong halaman, tepatnya daerah terpencil di pedalaman papua. Hubungan komunikasi via telpon pun mengalir, tawa, marah, sedih pun telah lalui, keheningan menghampah jagat kehidupan keluarga menjadi saksi bisu kehidupan. Kata orang tua terakhir berpesan kepada Yaklep bahwa “ Anak kuliah baik-baik dan cepat selesai lalu pulang kampong, kami orang tua mu sudah tua, kami berharap cepat selesai dan Tes pegawai negeri (pns) dan menjadi tuan bagi kami”.
Sebuah ilustrasi diatas mengantarkan para pembaca yang budiman untuk mengingatkan kembali atas kondisi perekonomian bangsa paska krisis ekonomi indonesia tahun 1997. Krisis ekonomi tahun 1997 yang menghantam hamper semu sector usaha di Indonesia menyebabkan semakin sempitnya lapangan pekerja yang tersedia. Akibatnya setiap tahun jumlah pekerja yang semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan pola piker para lulusan perguruan tinggi yang oleh max Gunther disebut sanlaritis, yaitu yang bermental buruh atau selalu ingin menjadi pegawai baik pegawai negeri maupun swasta. Untuk mengatasi hal itu, maka pola piker yang suda tertanam kuat tersebut harusdiubah, yaitu dari orang gajian (menerima gaji) menjadi pemberi gajian (pemilik usaha).
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kasmir, SE,. M.M. di beberapa perguruan tinggi swasta (6 PT) di Jakarta bahwa 25 persen ingin membuka usaha (wirausaha) sendiri sedangkan 75 persen ingin menjadi sanlaritis. Responden yang diambil dari mahasiswanya dari tingkat bawah, menengah dan tingkat atas tersebut mewakili mahasiswa Indonesia dierah pada tahun 2005. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 tersebut mengambil kesimpulan bahwa para lulusan sarjana paskah krisis ekonomi tahun 1997 sampai tahun 2005 tidak ingin membuka usahaa karena membutuhkan kurangnya pengetahuan tentang berwirausahaa, mentalitas berwirausahaa, niat serta dukungan pemerintah belum ada, sehingga para sarjana yang baru lulusan dari perguruan tinggi tidak membuka lapangan pekerjaan. Setiap tahun setiap perguruan tinggi di Indonesia meluluskan 2000 sampai2500 sarjana. Pengangguran sarjana semakin meningkat, harga barang melambung tinggi adalah ketidakkonsistensinya Negara ini.
Mentalitas pada dasarnya merupakan keadaan aktifitas jiwa manusia cara berfikir dan kebiasaan. Dengan demikian mentalitas berkaitan dengan wirausaha, maka mentalitas pribadi manusia mempengaruhi hasil usaha yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.
Wirausaha adalah orang yang menjalankan usaha atau perusahaan dengan kemungkinan untung atau rugi. Oleh karena itu wirausaha perlu memiliki kesiapan mental, baik untuk menghadapi keadaan merugi maupun untung besar. Sehingga seorang wirausaha harus mempunyai karakteristik khusus yang melekat pada diri seorang wirausaha seperti percaya diri, mempunyai banyak minat, bisa bersepakat, mempunyai ambisi, berjiwa penjelajah, suka mencoba sesuatu. Berikut ini adalah pengertian dan definisi wirausaha menurut beberapa ahli menurut (Joseph C. Schumpeter) Wirausaha adalah orang yang mampu menghancurkan keseimbangan pasar dan kemudian membentuk keseimbangan pasar yang baru dan mengambil keuntungan-keuntungan atas perubahan-perubahan tersebut, menurut (Raymond W.Y. Kao) Wirausaha adalah orang yang mampu menciptakan dan merancang suatu gagasan menjadi realita, menurut (Richard Cantillon) Wirausaha adalah seseorang yang mampu memindahkan atau mengkonversikan sumber-sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ketingkat produktivitas yang lebih tinggi,
Menurut (Schumpeter) Wirausaha merupakan inovator yang tidak selalu menjadi inventor (penemu), dan ( Syamsudin Suryana) Wirausaha adalah seseorang yang memiliki karakteristik percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambil resiko yang wajar, kepemimpinan yang lugas, kreatif menghasilkan inovasi, serta berorientasi pada masa depan, menurut(Prawirokusumo) Wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumber daya untuk menemukan sesuatu. Menurut hemat saya wiaruasaha merupakan sebuah usaha (baik bentuk fisik maupun nonfisik) dimana usaha tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, disisi lain usaha tersebut bisa gagal karena berbagai sebab.
Papua dalam konteks sumber daya alam yang begitu berlimpah rua baik dumber daya air laut, sumber daya sungai, sumber daya tanah, sumber daya udara yang begitu mensejuhkan bumi papua. Orang papua sendiri memiliki etos kerja keras, untuk mendapatkan, menghasilkan sesuatu yang bermanfaatkan dirinya, keluarga, serta seluruh masyarakat disekitarnya. Sumber daya air laut memiliki berbagai macam sumber daya yang berlimpah di laut fasifik, selat bumi cenderawasih dan selat lainnya yang ada di wilayah papua maupun papua barat. Misalnya ikan, berbagai macam bunga dan sayuran yang tumbuh di dasar laut, kepiting, kura-kura dan berbagai jenis sumber daya lainnya. Sumber daya alam (di darat) seperti rotan, kayu besi, kayu putih dan lainnnya.
Kesiapan sumber daya manusia papua dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Ketika diberikan otonomi khusus, SDM papua suda dikatakan mengalami peningkatan diberbagai bidang. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi informasi yang semakin berkembang, tentunya merupakan motor dorongan bagi regerasi bangsa papua dan pemangku kepentingan pendidikan di provinsi papua maupun provinsi papua untuk membuka cakrawala berpikir, bekerja sama dengan pihak-pihak terkait terutama lembaga pendidikan di dalam maupun luar negeri guna mencerdaskan generasi papua. Menyiapkan SDM yang handal melaui jalur kerja sama, seperti yang dilakukan oleh beberapa kabupaten di provinsi papua maupun provinsi papua barat, seperti kabupaten pegunungan bintang bekerja sama dengan Universitas Snata Dharma Yogyakarta, Kabupaten sosrong selatan bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yogyakarta, Kabupaten merauke setiap tahun mengirim anak-anak ke Surya Institut. Selain itu pemerintah daerah provinsi papua bekerja sama dengan atase pendidikan di perancis guna menyiapkan SDM Orang Asli Papua (Drs.Jhony Pelupessy kepala bidang pengembangan SDM Asli Papua, 31 agustus 2011), serta 200 anak berbakat krim ke luar negeri (DR. Zhakarias Giay, SKM, M.Kes.,MM) selaku kepala badan SDM Papua.
Setiap tahun beberapa Perguruan Tinggi di papua meluluskan ratusan sarjana sampai dengan ribuan sarja, baik sarjana ekonomi, sarja pemerintahan, sosiologi, eksata. Para lulusan sarjana masih saja mengalami kesulitan dalam membuka pekerjaan. Para lulusan perguruan tinggi di papua dalam kehidupan dan perkerjaannya terkesan tidak sesuai dengan harapan, kejangkalan dalam mengemban tugasnya. Terbukti setiap tahun kelulusan sarjana di bebrapa perguruan tinggi swasta maupun negeri di daerah papua, mereka tidak mau membuka usaha kecil-kecilan, tetapi mereka ingin menjadi Pegawai negeri sipil (PNS) kuli bangun pemerintah, kuli bangunan swasta, sehingga mereka tunggu pengangkatan PNS di daerah maupun provinsi. Hal ini menjadi perhatian serius oleh sejumlah pihak, terutama pengelola perguruan tinggi, orang tua sebagai basis pengembangan pengetahuan bagi anak, pemerintah sebagai pendorong anak untuk sekolah dan kuliah (biaya pendidikan). Sector penting yang harus diutamakan dalam membiayai pendidikan daerah, harus melihat kebutuhan daerah, apa yang dibutuhkan daerah maka, pemerintah harus konsisten mengirim anak dan membiayai kebutuhan kuliah sampai selesai dan ditempatkan pada lapangan pekerjaan yang disediakan.
Kemampuan orang papua terutama anak-anak muda papua yang berlatar belakang pendidikan sampai sekarang ini pun belum memiliki kemampuan dalam wirausaha, walaupun bergelar sarjana ekonomi tetapi kemudian pertannyaan yang muncul adalah sejauh mana kemampuan sarja ekonomi papua terutama sarjana ekonomi pegunungan bintang mampu mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya di dalam masyarakat dalam bentuk-bentuk nyata (konkrit)?. Sangat lucu dan konyol jika para sarjana ekonomi maupun sarjana yang lain pernah mendapatkan mata kuliah kewirausahaan di perguruan tinggi (TP), tetapi kemudian tidak mampu untuk diterapkan di lapangan, apa lagi di kabupaten-kabupaten baru alias kabupaten pemekaran di papua memberikan seluas-luasnya kepada orang asli papua untuk berwirausahaa, mengendalikan sector ekonomi, social, budaya, kesehatan dan lainnya. Tetapi itu semua sia-sia belaka, semua sarjana papua lari ke PNS, ingin menjadi politisi, ingin menjadi SV, PT dan lainnya yang suda disediakan oleh pemerintah republic ini.
Perluh ada pengkajian ilmiah atas indicator-indikator yang sering terjadi ini, tanpa ada perubahan di tinggkat masyarakat papua, terutama sarja sebagai pembaharu dan pendorong peradaban baru, tetapi kemudian persoaan tersebut dibiarkan dan berkembang dan akan menjamur menjadi kebiasaan bagi setiap insane orang papua, sehingga terjadi muncul orang papua bermental pecundang, bermental pemohon (proposal), atau orang papua bermental ketergantungan. Perlu berubah pola piker yang selama ini dibangun dari nenek moyang sampai pada sekarang ini, kemungkinan indicator ini terjadi karena orang papua belum mengalami dan merasakan atas bebrapa fase kehidupan karena orang papua dari masa tradisional langsung lewat ke masa teknologi iniformasi. Beberapa fase seperti masa penjajahan, masa industrialisasi, sehingga orang papua sekarang ini berada pada masa penjajahan, siapa saja para koloni itu? Pertanyaan ini perluh melihat kembali atas situasi sekarang ini, menurut hemat penulis adalah yang menjajah orang papua adalah pejabat papua itu sendiri (pejabat kaki tangan indonesia) dan pemerintah indosesia. Pejabat papua menjajah orang papua karena kita tau bersama bahwa uang rakyat (masyarakat) disedot oleh pejabat papua dan pemerintah Indonesia. Bantuan-bantuan luar negeri melalui lembaga internasional seperti IMF, WHO dan lainnya dapat disedot dan dimasukan oleh perut bermental makan ini.
Orang papua sendiri juga mempunyai sosialis yang lebih tinggi. Pandangan sosialis sudah terbangun dari nenekmoyang sampai sekarang, dengan demikian karena bermental sosialis maka orang muda papua sekrang ini tidak bekerja keras, ingin bermental pemohon. Dengan demikian saya mengulas beberapa parah ahli sosialis untuk membantu dalam membangun pola piker sosialis orang papua yang selama ini diterapkan. Berikut pandangan para ahli sosialis dunia, laude-Henri de Saint-Simon, Sang Bapak Sosialisme dunia. Menurutnya sentralisasi perencanaan sistem ekonomi pemerintah adalah hal yang harus di utamakan. Masyarakat industri akan menjadi baik apabila diorganisaikan secara baik. Dan pemerintah harus memiliki peran penting di dalamnya. Peran sentral para kapitalis sebaiknya dibatasi oleh wewenang pemerintah dalam perekonomian.
F.M. Charles Fourier, kaum borjuis yang olehnya adalah orang-orang cacat sosial. Demi kepentingan mereka sendiri, kaum buruh ditindas. Hal ini yang olehnya disebut sebagai sebuah pertentangan kelas terselubung, dan bila dibiarkaan maka harmoni masyarakat akan rusak. Untuk menyelesaikan hal ini, ia menganjurkan akan sebuah reorganisasi masyarakat Reorganisasi masyarakat ini dapat dilakukan dengan memisahkan kelompok-kelompok politik dan ekonomi. Opsi kedua yang ia tawarkan adalah dengan memberikan individu-individu kebebasan memilih pekerjaan. Meskipun nampak memberikan jalan keluar namun ide-idenya ini hanya dianggap sebagai sebuah ide utopian yang tidak bisa diwujudkan.
Louis Blanc satu dari orang-orang sosialis yang benar-benar ingin mengangkat kaum buruh. Kaum buruh olehnya harus menjadi prioritas pemerintah dalam menentukan kebijakan. Dan bentuk konkrit dari prioritas itu adalah dengan menyediakan kapital-kapital bagi kaum buruh. Setelah kapital-kapital itu disediakan maka kaum buruh diberi wewenang untuk mengelola pabrik-pabrik yang ada. Ide inipun bernasib sama dengan gagasan Fourier, di tolak dan dibuang jauh di dalam cerobong pabrik kapitalisme. Namun di balik itu, ada hal lain yang menyebabkan ide ini di tolak, merugikan politisi dan ekonom.
Karl Marx. Ide dasar yang membawanya pada sentralisasi murni sistem perekonomian adalah individualisme. Satu paham yang ditentangnya ini dianggap sebagai agen yang membuat masyarakat terkotak-kotak dalam kelas-kelas (Klassengesellschaft) sosial. Kelas-kelas sosial inilah yang olehnya ingin dihilangkan. Kelas sosial ini akan menimbulkan ketimpangan dalam masyarakat, kaum buruh akan semakin tertekan dengan kelas sosialnya. Sebaliknya kaum borjuis akan semakin berjaya. Maka untuk menghilangkan hal itu maka sistem perekonomia harus disentralisasi dengan memusatkan perekonomian itu pada pemerintah. Dengan sistem yang baru ini maka pemerataan akan dapat dilakukan, tidak ada lagi kepemilikan pribadi, yang ada hanya milik bersama secara kolektif. The Communist Manifesto adalah salah satu karya monumental Marx yang melukiskan keradikalanya sebagai seorang sosialis.
Dalam perkembangannya, kaum sosialis tumbuh menjadi aliran yang lebih radikal. Ajaran yang digunakan kaum ini lebih berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai, yaitu membentuk masyarakat sosialis dunia. Seringkali upaya-upaya yang mereka lakukan keluar jauh dari mainstream paham sosialis. Anarkisme, pembantaian dan bahkan mengorbankan bagian dari golongan mereka sendiri, semua itu sah-sah saja. Paham sosialis radikal ini berasal dari ajaran-ajaran Bakunin (1814-1876). Ajaran ini menemukan bentuknya yang paling mengerikan, ketika Rusia menjadi pusat sosialis dunia, era Lenin. Di sini militerisme menjadi alat sosialisme untuk melakukan segala tindak tanduknya. Paradigma masyarakat dunia pun berubah. Sebuah bayangan ketakutan akan muncul apabila nama sosialisme disebut. Sosialisme tidak lagi peduli dengan buruh-buruh di pabrik-pabrik para kapitalis, atau memikirkan bagaimana kesenjangan ekonomi dapat segera di atasi, tapi ia menjadi sibuk dengan urusan para elit-elit penguasa yang haus kekuasaan dan kekayaan (kapitalisme, sosialisme, dan system ekonomi Indonesia/puetra bumi).
Sosialis orang papua yang selam ini dikembangakan oleh para orang tua dari dulu, pejabat sekarang sampai pada anak-anak juga menjadi kebiasaan adalah sosialis bermental pecundang, pemohon, peminta. Paham sosialis ini akan menjadi cambuk bagi sesame karena memberikan suap tanpa ada usaha yang dilakukan untuk makan sendiri.
Suatu ketika Pace Yaklep menghubungi (melalui kontak person) kepada orang tuannya di kampong halaman, tepatnya daerah terpencil di pedalaman papua. Hubungan komunikasi via telpon pun mengalir, tawa, marah, sedih pun telah lalui, keheningan menghampah jagat kehidupan keluarga menjadi saksi bisu kehidupan. Kata orang tua terakhir berpesan kepada Yaklep bahwa “ Anak kuliah baik-baik dan cepat selesai lalu pulang kampong, kami orang tua mu sudah tua, kami berharap cepat selesai dan Tes pegawai negeri (pns) dan menjadi tuan bagi kami”.
Sebuah ilustrasi diatas mengantarkan para pembaca yang budiman untuk mengingatkan kembali atas kondisi perekonomian bangsa paska krisis ekonomi indonesia tahun 1997. Krisis ekonomi tahun 1997 yang menghantam hamper semu sector usaha di Indonesia menyebabkan semakin sempitnya lapangan pekerja yang tersedia. Akibatnya setiap tahun jumlah pekerja yang semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan pola piker para lulusan perguruan tinggi yang oleh max Gunther disebut sanlaritis, yaitu yang bermental buruh atau selalu ingin menjadi pegawai baik pegawai negeri maupun swasta. Untuk mengatasi hal itu, maka pola piker yang suda tertanam kuat tersebut harusdiubah, yaitu dari orang gajian (menerima gaji) menjadi pemberi gajian (pemilik usaha).
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kasmir, SE,. M.M. di beberapa perguruan tinggi swasta (6 PT) di Jakarta bahwa 25 persen ingin membuka usaha (wirausaha) sendiri sedangkan 75 persen ingin menjadi sanlaritis. Responden yang diambil dari mahasiswanya dari tingkat bawah, menengah dan tingkat atas tersebut mewakili mahasiswa Indonesia dierah pada tahun 2005. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 tersebut mengambil kesimpulan bahwa para lulusan sarjana paskah krisis ekonomi tahun 1997 sampai tahun 2005 tidak ingin membuka usahaa karena membutuhkan kurangnya pengetahuan tentang berwirausahaa, mentalitas berwirausahaa, niat serta dukungan pemerintah belum ada, sehingga para sarjana yang baru lulusan dari perguruan tinggi tidak membuka lapangan pekerjaan. Setiap tahun setiap perguruan tinggi di Indonesia meluluskan 2000 sampai2500 sarjana. Pengangguran sarjana semakin meningkat, harga barang melambung tinggi adalah ketidakkonsistensinya Negara ini.
Mentalitas pada dasarnya merupakan keadaan aktifitas jiwa manusia cara berfikir dan kebiasaan. Dengan demikian mentalitas berkaitan dengan wirausaha, maka mentalitas pribadi manusia mempengaruhi hasil usaha yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.
Wirausaha adalah orang yang menjalankan usaha atau perusahaan dengan kemungkinan untung atau rugi. Oleh karena itu wirausaha perlu memiliki kesiapan mental, baik untuk menghadapi keadaan merugi maupun untung besar. Sehingga seorang wirausaha harus mempunyai karakteristik khusus yang melekat pada diri seorang wirausaha seperti percaya diri, mempunyai banyak minat, bisa bersepakat, mempunyai ambisi, berjiwa penjelajah, suka mencoba sesuatu. Berikut ini adalah pengertian dan definisi wirausaha menurut beberapa ahli menurut (Joseph C. Schumpeter) Wirausaha adalah orang yang mampu menghancurkan keseimbangan pasar dan kemudian membentuk keseimbangan pasar yang baru dan mengambil keuntungan-keuntungan atas perubahan-perubahan tersebut, menurut (Raymond W.Y. Kao) Wirausaha adalah orang yang mampu menciptakan dan merancang suatu gagasan menjadi realita, menurut (Richard Cantillon) Wirausaha adalah seseorang yang mampu memindahkan atau mengkonversikan sumber-sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ketingkat produktivitas yang lebih tinggi,
Menurut (Schumpeter) Wirausaha merupakan inovator yang tidak selalu menjadi inventor (penemu), dan ( Syamsudin Suryana) Wirausaha adalah seseorang yang memiliki karakteristik percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambil resiko yang wajar, kepemimpinan yang lugas, kreatif menghasilkan inovasi, serta berorientasi pada masa depan, menurut(Prawirokusumo) Wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumber daya untuk menemukan sesuatu. Menurut hemat saya wiaruasaha merupakan sebuah usaha (baik bentuk fisik maupun nonfisik) dimana usaha tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, disisi lain usaha tersebut bisa gagal karena berbagai sebab.
Papua dalam konteks sumber daya alam yang begitu berlimpah rua baik dumber daya air laut, sumber daya sungai, sumber daya tanah, sumber daya udara yang begitu mensejuhkan bumi papua. Orang papua sendiri memiliki etos kerja keras, untuk mendapatkan, menghasilkan sesuatu yang bermanfaatkan dirinya, keluarga, serta seluruh masyarakat disekitarnya. Sumber daya air laut memiliki berbagai macam sumber daya yang berlimpah di laut fasifik, selat bumi cenderawasih dan selat lainnya yang ada di wilayah papua maupun papua barat. Misalnya ikan, berbagai macam bunga dan sayuran yang tumbuh di dasar laut, kepiting, kura-kura dan berbagai jenis sumber daya lainnya. Sumber daya alam (di darat) seperti rotan, kayu besi, kayu putih dan lainnnya.
Kesiapan sumber daya manusia papua dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Ketika diberikan otonomi khusus, SDM papua suda dikatakan mengalami peningkatan diberbagai bidang. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi informasi yang semakin berkembang, tentunya merupakan motor dorongan bagi regerasi bangsa papua dan pemangku kepentingan pendidikan di provinsi papua maupun provinsi papua untuk membuka cakrawala berpikir, bekerja sama dengan pihak-pihak terkait terutama lembaga pendidikan di dalam maupun luar negeri guna mencerdaskan generasi papua. Menyiapkan SDM yang handal melaui jalur kerja sama, seperti yang dilakukan oleh beberapa kabupaten di provinsi papua maupun provinsi papua barat, seperti kabupaten pegunungan bintang bekerja sama dengan Universitas Snata Dharma Yogyakarta, Kabupaten sosrong selatan bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yogyakarta, Kabupaten merauke setiap tahun mengirim anak-anak ke Surya Institut. Selain itu pemerintah daerah provinsi papua bekerja sama dengan atase pendidikan di perancis guna menyiapkan SDM Orang Asli Papua (Drs.Jhony Pelupessy kepala bidang pengembangan SDM Asli Papua, 31 agustus 2011), serta 200 anak berbakat krim ke luar negeri (DR. Zhakarias Giay, SKM, M.Kes.,MM) selaku kepala badan SDM Papua.
Setiap tahun beberapa Perguruan Tinggi di papua meluluskan ratusan sarjana sampai dengan ribuan sarja, baik sarjana ekonomi, sarja pemerintahan, sosiologi, eksata. Para lulusan sarjana masih saja mengalami kesulitan dalam membuka pekerjaan. Para lulusan perguruan tinggi di papua dalam kehidupan dan perkerjaannya terkesan tidak sesuai dengan harapan, kejangkalan dalam mengemban tugasnya. Terbukti setiap tahun kelulusan sarjana di bebrapa perguruan tinggi swasta maupun negeri di daerah papua, mereka tidak mau membuka usaha kecil-kecilan, tetapi mereka ingin menjadi Pegawai negeri sipil (PNS) kuli bangun pemerintah, kuli bangunan swasta, sehingga mereka tunggu pengangkatan PNS di daerah maupun provinsi. Hal ini menjadi perhatian serius oleh sejumlah pihak, terutama pengelola perguruan tinggi, orang tua sebagai basis pengembangan pengetahuan bagi anak, pemerintah sebagai pendorong anak untuk sekolah dan kuliah (biaya pendidikan). Sector penting yang harus diutamakan dalam membiayai pendidikan daerah, harus melihat kebutuhan daerah, apa yang dibutuhkan daerah maka, pemerintah harus konsisten mengirim anak dan membiayai kebutuhan kuliah sampai selesai dan ditempatkan pada lapangan pekerjaan yang disediakan.
Kemampuan orang papua terutama anak-anak muda papua yang berlatar belakang pendidikan sampai sekarang ini pun belum memiliki kemampuan dalam wirausaha, walaupun bergelar sarjana ekonomi tetapi kemudian pertannyaan yang muncul adalah sejauh mana kemampuan sarja ekonomi papua terutama sarjana ekonomi pegunungan bintang mampu mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya di dalam masyarakat dalam bentuk-bentuk nyata (konkrit)?. Sangat lucu dan konyol jika para sarjana ekonomi maupun sarjana yang lain pernah mendapatkan mata kuliah kewirausahaan di perguruan tinggi (TP), tetapi kemudian tidak mampu untuk diterapkan di lapangan, apa lagi di kabupaten-kabupaten baru alias kabupaten pemekaran di papua memberikan seluas-luasnya kepada orang asli papua untuk berwirausahaa, mengendalikan sector ekonomi, social, budaya, kesehatan dan lainnya. Tetapi itu semua sia-sia belaka, semua sarjana papua lari ke PNS, ingin menjadi politisi, ingin menjadi SV, PT dan lainnya yang suda disediakan oleh pemerintah republic ini.
Perluh ada pengkajian ilmiah atas indicator-indikator yang sering terjadi ini, tanpa ada perubahan di tinggkat masyarakat papua, terutama sarja sebagai pembaharu dan pendorong peradaban baru, tetapi kemudian persoaan tersebut dibiarkan dan berkembang dan akan menjamur menjadi kebiasaan bagi setiap insane orang papua, sehingga terjadi muncul orang papua bermental pecundang, bermental pemohon (proposal), atau orang papua bermental ketergantungan. Perlu berubah pola piker yang selama ini dibangun dari nenek moyang sampai pada sekarang ini, kemungkinan indicator ini terjadi karena orang papua belum mengalami dan merasakan atas bebrapa fase kehidupan karena orang papua dari masa tradisional langsung lewat ke masa teknologi iniformasi. Beberapa fase seperti masa penjajahan, masa industrialisasi, sehingga orang papua sekarang ini berada pada masa penjajahan, siapa saja para koloni itu? Pertanyaan ini perluh melihat kembali atas situasi sekarang ini, menurut hemat penulis adalah yang menjajah orang papua adalah pejabat papua itu sendiri (pejabat kaki tangan indonesia) dan pemerintah indosesia. Pejabat papua menjajah orang papua karena kita tau bersama bahwa uang rakyat (masyarakat) disedot oleh pejabat papua dan pemerintah Indonesia. Bantuan-bantuan luar negeri melalui lembaga internasional seperti IMF, WHO dan lainnya dapat disedot dan dimasukan oleh perut bermental makan ini.
Orang papua sendiri juga mempunyai sosialis yang lebih tinggi. Pandangan sosialis sudah terbangun dari nenekmoyang sampai sekarang, dengan demikian karena bermental sosialis maka orang muda papua sekrang ini tidak bekerja keras, ingin bermental pemohon. Dengan demikian saya mengulas beberapa parah ahli sosialis untuk membantu dalam membangun pola piker sosialis orang papua yang selama ini diterapkan. Berikut pandangan para ahli sosialis dunia, laude-Henri de Saint-Simon, Sang Bapak Sosialisme dunia. Menurutnya sentralisasi perencanaan sistem ekonomi pemerintah adalah hal yang harus di utamakan. Masyarakat industri akan menjadi baik apabila diorganisaikan secara baik. Dan pemerintah harus memiliki peran penting di dalamnya. Peran sentral para kapitalis sebaiknya dibatasi oleh wewenang pemerintah dalam perekonomian.
F.M. Charles Fourier, kaum borjuis yang olehnya adalah orang-orang cacat sosial. Demi kepentingan mereka sendiri, kaum buruh ditindas. Hal ini yang olehnya disebut sebagai sebuah pertentangan kelas terselubung, dan bila dibiarkaan maka harmoni masyarakat akan rusak. Untuk menyelesaikan hal ini, ia menganjurkan akan sebuah reorganisasi masyarakat Reorganisasi masyarakat ini dapat dilakukan dengan memisahkan kelompok-kelompok politik dan ekonomi. Opsi kedua yang ia tawarkan adalah dengan memberikan individu-individu kebebasan memilih pekerjaan. Meskipun nampak memberikan jalan keluar namun ide-idenya ini hanya dianggap sebagai sebuah ide utopian yang tidak bisa diwujudkan.
Louis Blanc satu dari orang-orang sosialis yang benar-benar ingin mengangkat kaum buruh. Kaum buruh olehnya harus menjadi prioritas pemerintah dalam menentukan kebijakan. Dan bentuk konkrit dari prioritas itu adalah dengan menyediakan kapital-kapital bagi kaum buruh. Setelah kapital-kapital itu disediakan maka kaum buruh diberi wewenang untuk mengelola pabrik-pabrik yang ada. Ide inipun bernasib sama dengan gagasan Fourier, di tolak dan dibuang jauh di dalam cerobong pabrik kapitalisme. Namun di balik itu, ada hal lain yang menyebabkan ide ini di tolak, merugikan politisi dan ekonom.
Karl Marx. Ide dasar yang membawanya pada sentralisasi murni sistem perekonomian adalah individualisme. Satu paham yang ditentangnya ini dianggap sebagai agen yang membuat masyarakat terkotak-kotak dalam kelas-kelas (Klassengesellschaft) sosial. Kelas-kelas sosial inilah yang olehnya ingin dihilangkan. Kelas sosial ini akan menimbulkan ketimpangan dalam masyarakat, kaum buruh akan semakin tertekan dengan kelas sosialnya. Sebaliknya kaum borjuis akan semakin berjaya. Maka untuk menghilangkan hal itu maka sistem perekonomia harus disentralisasi dengan memusatkan perekonomian itu pada pemerintah. Dengan sistem yang baru ini maka pemerataan akan dapat dilakukan, tidak ada lagi kepemilikan pribadi, yang ada hanya milik bersama secara kolektif. The Communist Manifesto adalah salah satu karya monumental Marx yang melukiskan keradikalanya sebagai seorang sosialis.
Dalam perkembangannya, kaum sosialis tumbuh menjadi aliran yang lebih radikal. Ajaran yang digunakan kaum ini lebih berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai, yaitu membentuk masyarakat sosialis dunia. Seringkali upaya-upaya yang mereka lakukan keluar jauh dari mainstream paham sosialis. Anarkisme, pembantaian dan bahkan mengorbankan bagian dari golongan mereka sendiri, semua itu sah-sah saja. Paham sosialis radikal ini berasal dari ajaran-ajaran Bakunin (1814-1876). Ajaran ini menemukan bentuknya yang paling mengerikan, ketika Rusia menjadi pusat sosialis dunia, era Lenin. Di sini militerisme menjadi alat sosialisme untuk melakukan segala tindak tanduknya. Paradigma masyarakat dunia pun berubah. Sebuah bayangan ketakutan akan muncul apabila nama sosialisme disebut. Sosialisme tidak lagi peduli dengan buruh-buruh di pabrik-pabrik para kapitalis, atau memikirkan bagaimana kesenjangan ekonomi dapat segera di atasi, tapi ia menjadi sibuk dengan urusan para elit-elit penguasa yang haus kekuasaan dan kekayaan (kapitalisme, sosialisme, dan system ekonomi Indonesia/puetra bumi).
Sosialis orang papua yang selam ini dikembangakan oleh para orang tua dari dulu, pejabat sekarang sampai pada anak-anak juga menjadi kebiasaan adalah sosialis bermental pecundang, pemohon, peminta. Paham sosialis ini akan menjadi cambuk bagi sesame karena memberikan suap tanpa ada usaha yang dilakukan untuk makan sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)