berita

Source: http://www.amronbadriza.com/2012/07/cara-membuat-judul-blog-bergerak.html#ixzz2HGOAa7ZG

Senin, 23 April 2012

Hari Buku

By Abbel Simbolon-Kita tentu sudah tahu bagaimana menentukan sebuah negara atau kebudayaan suatu bangsa sudah memasuki masa sejarah. Peralihan dari prasejarah (nir: tidak, Leka: tulisan) ke sejarah ditandai dengan adanya tulisan. Bangsa Indonesia telah memasuki masa sejarah ketika ditemukan prasasti di sekitar sungai Mahakam, Kalimantan Timur pada saat berdirinya Kerajaan Kutai (sekitar abad ke-5). Di prasasti itu tertulis bahwa Raja Mulawarman pernah memberi sedekah kepada Pendeta Brahmana 20.000 ekor sapi (sebagian teks dari prasasti). (Lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Mulawarman). Dan masih banyak lagi kemudian, tulisan-tulisan yang mendukung bahwa Indonesia sudah mengakhiri masa prasejarah.

Nasionalisme yang (Hampir) Terkoyak

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu…….

Syair diatas adalah sepenggal dari nyanyian Indonesia Raya, yang telah diciptakan dari seoarang WR Supratman sebagai sebuah seruan,keteguhan sikap dari anak bangsa disemua pelosok untuk bersatu demi Indonesia. Sampai hari ini lagu tersebut akan tetap terdengarkan, tidak terkecuali di ajang Sepak Bola sekalipun.

Krupuk Ubi: Produk Asli Masyarakat Nuu War

Mereka menyebutnya kerupuk. Tetapi jangan membayangkan kerupuk yang biasa Anda makan. Kerupuk hasil produksi asli masyarakat suku Abun Kabupaten Sorong, Nuu Waar (Irian Jaya Barat) ini tidak terbuat dari tepung, tetapi berbahan dari ubi.

Kerupuk ubi, begitu mereka menamakan makanan ringan ini. Buat saya, kerupuk ini lebih mirip keripik pedas. Apapun namanya, makanan ini benar enak. Buat saya, jauh lebih enak keripik-keripik yang banyak dijual di jalan dengan menggunakan mobil itu. Ada rasa manis dan pedas. Terlebih lagi, kerupuk ubi suku Abun Sorong ini nggak pake level-level. Sebab, makanan ringan bukanlah multi level marketing (MLM) yang memakai sistem level, atau bukan kursus musik atau bahasa Inggris, dan bukan

Mari Kita Dukung Penghapusan Subsidi BBM!

Persoalan subsidi BBM ini sudah terlalu lama menggantung, seperti badai petir yang mengancam. Antara dikurangi sedikit atau banyak, dikhususkan untuk masyarakat miskin atau melarat, bulan ini atau bulan depan, tak ada kepastian. Beragam spekulasi membuat duduk permasalahannya menjadi tak jelas lagi, dan cenderung menimbulkan ketidakpastian dalam perekonomian.

Tak kurang banyaknya politisi petualang di negara ini, yang dengan kepiawaiannya meramu isu BBM menjadi komodititas politik. Informasi terakhir, pemerintah akan membatasi pasokan BBM ke SPBU, untuk menghemat 40 juta kilo liter, demi mengamankan neraca APBN-P. Kebijakan itu pasti akan membuat SPBU buka /tutup kehabisan stok. Situasi yang akan menyusul adalah antrian panjang kenderaan di sekitar SPBU. Siang-malam, dari pagi hingga sore, berbaris-baris. BBM murah tapi langka. Jika tak mau ikut antri, silakan membeli BBM di pasar gelap seharga Rp. 25.000.-/liternya.

Itu situasi yang sulit. Rawan kerusuhan!

Oleh karena itu marilah kita bantu pemerintah mengambil keputusan. Daripada berlama-lama dalam ketidakpastian, hapuskan saja subsidi BBM itu. Biarkan harga BBM berfluktuasi mengikuti harga minyak dunia. Perekonomian Bangsa Indonesia tidak akan bangkrut. Toh, sebenarnya harga itulah yang dibayar masyarakat lewat pajak di sisi lainnya.

Dengan dihapuskannya subsidi BBM, maka perekonomian masyarakat akan bergerak pada realitas semestinya. Tak ada lagi distorsi pasar, kontradiksi-kontradiksi tarif angkutan, harga jual produk apa pun akan memiliki nilai pasti. Adapaun permintaan masyarakat agar pemerintah lebih serius memberantas korupsi, itu biarlah urusan pemerintah. Sudah sepatutnya komoditas primer seperti BBM ini dibebaskan dari pengaruh politik. Hukuman bagi politisi yang tidak serius menjalankan tugasnya adalah pada pemilu nanti, lewati gambarnya!

Penghapusan subsidi BBM akan menjamin pasokan selalu lancar. Tak diperlukan lagi monopoli perdagangan oleh Petamina. Sebagai BUMN,Pertamina silakan jalan terus sebagaimana Bulog. Semua orang bebas mengimpor BBM dan menjualnya kepada masyarakat luas. Sehingga ada jaminan tidak terjadi kelangkaan. Kondisi seperti itu lebih menjamin kepastian dalam perekonomian.

Untuk sekarang ini harga bensin di pasaran dunia kira-kira Rp. 8.000.-/liter, dan solar lebih murah sedikit. Harga itu beda tipis dari rencana pemerintah yang dibatalkan itu, yang memicu munculnya opsi pembatasan pasokan. Lebih jauh lagi, pembatasan BBM itu akan mempengaruhi hidup-mati mesin PLTD, sehingga PLN kembali memberlakukan kebijakan pemadaman listrik bergilir.

Sungguh buruk akibat lanjutan dari pembatasan pasokan ini, hanya karena persoalan besar-kecilnya subsidi BBM, kota-kota menjadi gelap gulita, seolah-olah kembali ke peradaban lampau. Sudah waktunya Masyarakat Indonesia membangun kepercayaan diri dengan tampil sedikit gagah. Dengan harga bensin Rp. 8000.-/liter, kita tidak akan lumpuh. Malahan dengan harga itu perekonomian masyarakat akan semakin kuat, semakin realistis, semakin efisien, semakin bersaing.

Itu adalah harga yang menantang.

Mari, kita taklukkan!
Keberhasilan Alex Noerdin di Jakabaring



Alex Noerdin bisa dikatakan sebagai orang di balik keberhasil kawasan kota olahraga Jakabaring, menjadi sportcity berkelas dunia. Sebagai Gubernur Sumatera Selatan, Alex menjawab cibiran orang yang pesimistis pembangunan tidak akan mulus. Dia membuktikan, Jakabaring megah hanya dalam waktu 11 bulan.

Atas keberhasilannya itu, Alex meraih penghargaan “The Best Regional Leader Of The Year 2011″ yang dianugerahkan sebuah perusahaan marketing “Markplus Inc.” Alex dinilai berhasil menggelar pesta olahraga antarnegara Asia Tenggara SEA Games 2011.

Gubernur Sumatera Selatan berandil besar pada kesuksesan penyelenggaraan pesta olehraga yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali itu.

Mengutip omongan salah seorang pendiri Markplus Inc, Hermawan Kertajaya, Alex Noerdin memiliki pemikiran yang inovatif, kreatif dan terobosan untuk mewujudkan kemajuan suatu daerah menyelenggarakan pesta olahraga tingkat internasional.

Awalnya memang ada sejumlah kalangan yang merasa pesimistis terhadap kesuksesan Sumatera Selatan menjadi tuan rumah pesta olahraga antarnegara se-Asia Tenggara tersebut, karena belum memiliki pengalaman dan minim infrastruktur. “Tapi kami punya modal tekad dan semangat untuk berhasil,” ujar Alex.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menjadikan penyelenggaraan SEA Games 2011, sebagai sarana untuk memperkenalkan Sumatera Selatan kepada dunia internasional dalam upaya meningkatkan pariwisata.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan membangun fasilitas olahraga bertaraf internasional di atas lahan tanah seluas 325 hektar terdiri dari 22 tempat pertandingan olahraga.

Alex Noerdin yang juga bakal calon gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Nono Sampono teurs berupaya mendatangkan investor guna membangun infrastuktur rel kereta api “double track” sepanjang 170 kilometer dari Tanjung Enim ke Pelabuhan Tanjung Api-Api dan ruas jalan tol yang merupakan bagian dari 1980 KM Trans Sumatera Highway yang akan pararel dengan Trans Sumatera Railway. Nilai infrastruktur untuk membangun SEA Games bernilai lebih dari Rp4 Triliun, namun hanya 8 persen yang berasal dari APBD Sumsel.

Dengan pencapaian ini, investor semakin percaya untuk berinvestasi di Sumsel. Hal itu ditandai dengan dua negara yang sudah siap membiayai pembangunan jalan tol trans Sumatera sepanjang 1.980 kilometer yang akan menghubungkan koridor Jawa dan Sumatera.

Alangkah baiknya jika kesuksesan itu juga terjadi di Jakarta. Sudah selayaknya Alex melanjutkan pembangunan di Ibukota. Saat ini sarana olahraga di Jakarta kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak gelanggang olahraga yang tak terurus. Selama ini GOR seperti sudah lama terlupakan, menjadi tidak terawat, sepi, dan menyeramkan. Padahal dulu GOR merupakan tempat olahraga yang menjadi primadona bagi kaum muda di Jakarta.

Sejak didirikan pada zaman Gubernur Ali Sadikin tahun 1973, sampai sekarang sebagian besar GOR belum direhabilitasi. Fungsi GOR bukan hanya untuk peningkatan pembinaan atlet, namun jga sebagai sarana masyarakat meningkatkan bakatnya.

Jakarta memang membutuhkan figur pemimpin yang dapat mengangkat citra Ibukota lebih dihargai. Sebab Jakarta adalah wajah etalase, jendala depan dari Republik Indonesia. Pemimpin yang telah teruji berpegalaman memajukan daerahnya pantas menduduki jabatan DKI 1.

Anarkisme Gerakan Moral : Menguak Fakta Tanpa Klaim Kebenaran

“Usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: lawan!”. …

Sepertinya sangat kontradiksi memang bila berbicara dalam perspektif gerakan moral dan anarkisme. Anarkisme yang diidentifikasikan dengan unsur ke negatifannya (atau dengan suatu pinsip yang berhubungan dengan hal-hal yang bernuansa destruktif, chaotic, dan ketidakteraturan atau disorder) membuat semua orang takut akan segala dampaknya. Bahkan anarkisme diposisikan berseberangan dengan demokrasi. Padahal kita tidak tahu secara pasti apa yang disebut dengan paham anarkisme itu. Baik dalam perspektif ideologi maupun sejarahnya.

Waspadai Agen Penyakit PAUD

The golden age, berada pada interval usia 1-4 tahun (fase pertama), 5-10 tahun (fase kedua). Kedua fase ini ter-komposit dalam PAUD KOBER. Parameter tumbuhkembang anak bermula dari sini. Ia mampu membingkai prediktor serupa apa status kesehatan dan kesakitannya 15, 20, 50 bahkan 70 tahun akan datang. Termasuk faktor risiko terhadap kematiannya.



kiatsehat.com

“Tumbuhkembangnya” PAUD menyita perhatian penulis untuk mempersoalkannya, diawali hal ringan saja bahwa PAUD telah sanggup ‘memperdayai’ perilaku anak untuk dipaksa meninggalkan perilaku alaminya yang terlekat rasa ingin bermain mulai bangun sampai tertidur. Fase anak kecil memang naturalnya bertajuk seperti ini: Bangun Tidur-Main-Tidur lagi.Artifak bentukan perilaku yang sanggup mengencangkan speed kognitif -sampai kini belum ada riset behavior perbedaan mentalitas anak PAUD dengan non PAUD- dan menstimulasi logika ringan-ringan saja dari seorang anak kecil .

Apakah PAUD berkontribusi baik atau buruk terhadap masa depan anak?. Belum ada jawaban pasti terhadap pertanyaan ini…! So, masihlah mengendapkan sebuah tanda tanya besar. Analisa penulis, seorang anak yang di-PAUD-kan suatu saat jika ia remaja, ia akan menjumput satu per satu perilaku anak-anaknya yang sempat terlewatkan.

Apapun itu, PAUD pelan tapi pasti akan menjadi sebuah peradaban pendidikan -pemerintah/swasta- di negeri ini. Ah…jika ingin safe, maka kita berkiblat kepada Teori Psikoanalisa (Nasib manusia tiada yang bisa menentukan) termasuk nasib anak Anda. Ahay, tak boleh begitu saja, sebab bisa dibenturkan dengan dahsyatnya Teori Humanistik: manusia mau baik ataukah buruk, manusia itu sendiri yang memilihnya.…. Bingung euy….!!!

Jangan remeh-temehkan agen penyakit di PAUD

Wahai ibu-ibu dan ayah-ayah di Kompasiana, seksamalah dalam memilih PAUD. Bukankah PAUD adalah ‘kolektor’ anak-anak kecil, di tempat ini terjadi interaksi anak, interaksi dengan lingkungan yang meliputi peralatan permainan, peralatan makan dan minum dan seterusnya?.

Ibu sayang kepada anak-anak, bukan?. Coba perhatikan sarana di PAUD kita, kesannya sedikit amatiran. Mendirikan PAUD untuk economic need belaka. Tak jarang kulihat sepetak rumah tempat tinggal ‘dipaksakan’ menjadi sebuah gedung PAUD.

Perlukah penulis ungkapkan bagaimana cemasnya Anda ketika mulut anak Anda hadir bercak putih?. Lidahnya pun turut ‘keputihan’ nan bau. Jangan heran jika anak tiba-tiba demam, bahkan tinggi sekali suhu tubuhnya. Apakah ibu belum menyadari bahwa ini ulah dari sang pembuat demam yang bernama rubeola?. Belum lagi dermatitis, scabies, ISPA, infeksi usus yang dimotori pluralnya jenis cemilan anak yang tak sempat terpantau oleh pengelola dan staf di PAUD.

Saya takkan berlama-lama di sini membahas kronologi biomedisnya, namun penulis hanya menyayangkan kepada pengelola PAUD dengan mudahnya mendirikan PAUD tetapi tak dilengkapi Tim Medis. (minilmal kerjasama dengan sebuah klinik, red). Buat saya, ini adalah persyaratan absolut sebuah institusi pendidikan bernama PAUD. Tanpa berkiblat ke negeri China-pun, unit pelayanan kesehatan di PAUD wajib diadakan guna monitoring berkala kesehatan setiap anak.

Buat saya lagi, PAUD bukan sebatas Kelompok Bermain (KOBER), bukan pula sekedar ‘menitipkan’ anak, juga bukan semisal ‘rumah kedua’ dari sang anak. Namun, jauh dari itu. Kesehatan anak adalah hak mereka, dan saya jadi ketakutan jika suatu saat PAUD justru tersulap menjadi miniatur rumah sakit yang memantik infeksi nosokomial, antar anak bermanifesto agen penyakit menular (generatif).



Anak-anak kita adalah makhluk latah, kitalah yang sangat wajib bertindak bijaksana agar tidak terjerembab sebuah bisnis yang melemahkan kesehatan anak. Dirikanlah sebuah PAUD yang menyediakan sarana kesehatan anak.

Orangtuapun wajib selektif dalam memilih PAUD. Tanpa sadar, sesungguhnya anak-anak Anda adalah masa depan Indonesia. Ikhlaskah bangsa Indonesia akan datang disasaki oleh generasi lemah fisik akibat seringnya terserang penyakit di masa kecil?. Jangan katakan lagi, menghadirkan anak di PAUD agar cerdas, tapi lupa bahwa anak ‘diserahkan’ ke PAUD juga untuk kesehatan mereka. Jadi jangan sembarangan. PAUDkan anak Anda untuk menyehatkannya, bukan malah dikeroyok bakteri-bakteri, dikepung virus dan diberondong mikroba-mikroba yang disebabkan minimnya atensi pengelola PAUD akan sebuah fasilitas kesehatan dan ketiadaan tim medikal…!!!^^^

Tak Ada Timbangan Pas di Dunia

“Sok ambil aja tambahannya berapa, takut kiloannya nggak pas…” kata Mang Ahen, penjual sayuran di pasar, waktu Kabayan membeli lima kilo kentang pesanan Ambu, mertuanya. Kabayan bingung, “Lah, kan sudah dikilo barusan, Mang…” kata Kabayan. Mang Ahen tersenyum, “Pan saya sudah bilang, takut kiloannya nggak pas, jadi ambil aja lebihannya, terserah Kang Kabayan…” jawabnya.

Kabayan lalu memilih lima buah kentang dan menambahkannya ke dalam tumpukan kentang yang baru dibelinya itu, tapi ia lalu bertanya lagi karena penasaran. “Kenapa nggak Mang Ahen saja yang nambahin, kalau saya ngambil tambahannya kebanyakan, apa nggak takut rugi, Mang?” tanyanya. Mang Ahen tersenyum lagi, “Justru saya takut yang beli rugi Kang, kentang itu kan nggak terlalu bersih, di kulitnya kan masih nempel tanah, batu, atau kotoran lain yang nambahin beratnya. Sementara Akang kan beli kentang, nggak beli kotorannya…” jawab Mang Ahen. “Lagian Kang, kata Ajengan (ulama, guru ngaji), mengurangi timbangan itu dosa, dan kekurangannya bisa mengurangi pahala kita di akhirat nanti. Sementara pahala saya kan belum tentu banyak, jadi gawat kalo harus dikurangi lagi gara-gara timbangan yang nggak pas…“ tambahnya.

“Lah bukannya ini timbangan yang sudah dibuat pas oleh pabriknya, terus kan biasanya pemerintah sering menguji timbangan di pasar, apa masih pas atau sudah ngaco…” kata Kabayan lagi. “Ya memang ada tera ulang timbangan,” jawab Mang Ahen, “Tapi apa mereka bisa benar-benar menjamin timbangannya ini bener-bener pas? Terus kalaupun timbangannya bener, kan barang yang ditimbangnya tidak bisa saya jamin bersih dari tambahan lain yang tidak dibeli oleh pelanggan saya, kayak tanah di kentang, daun di wortel, kutu di beras, dan macem-macem…” sambungnya. “Lagian, kalo misalnya pemerintah yang menguji timbangan saya salah, atau jualan saya masih kotor, apa dosanya buat pemerintah atau petani yang menjualnya? Kan belum tentu. Jadi daripada dosanya ditanggung saya, mendingan pelanggan yang mengambil haknya…”

Kabayan bengong, “Apa nggak takut rugi Mang?” tanyanya lagi dengan takjub. Mang Ahen tersenyum lagi, “Apalah artinya kerugian yang tidak seberapa di dunia, daripada kerugian nanti di akhirat…” jawabnya. “Tapi saya juga jadi takut Mang, takut kebanyakan ngambil lebihnya, nanti malah mengurangi pahala saya yang juga nggak banyak…” kata Kabayan lagi. Mang Ahen lagi-lagi tersenyum, “Semakin banyak yang Akang ambil, Akang kan untung, paling nggak di dunia, dan lebihnya itu halal, karena saya ikhlas. Dan semakin banyak yang Akang ambil, semakin kecil kemungkinan pahala saya di akhirat dikurangi, kan begitu. Jadinya kita sama-sama untung, Akang minimal untung di dunia, dan saya untung di akhirat…” jawab Mang Ahen.

Kabayan mengangguk-angguk, setelah membayar harga kentang yang dibelinya, ia pamitan. Di jalan ia masih merenung, kok bisa ya ada penjual seperti itu. Andai saja semua penjual itu seperti Mang Ahen, pasti tidak ada pembeli yang merasa dirugikan. Waktu naik angkutan yang akan membawanya pulang ke Cibangkonol, Kabayan menceritakan kejadian itu pada Bi Mimin, pemilik warung di Cibangkonol yang kebetulan pulang belanja. Bi Mimin tertawa mendengar cerita Kabayan, “Maneh(kamu) mah nggak tau akal-akalan penjual sih Yan. Berapapun yang kamu ambil sebagai lebihnya, tetap saja tidak akan melebihi apa yang sudah diambilnya dengan mengakali timbangan. Ibaratnya, dia mengurangi satu ons timbangannya, dan kamu mengambil lebihnya hanya setengah ons, dia tetap saja masih untung, apalagi dia sudah bilang kentangnya kan nggak mungkin bersih…” kata Bi Mimin.

Kabayan bengong, ia nggak percaya dengan omongan Bi Mimin, “Ah, nggak mungkin Bi, orangnya jujur kok, ngapain ngomong begitu kalo dia curang mah, orang curang kan biasanya diam-diam…” kata Kabayan. Bi Mimin nyengir, “Kamu tuh polos pisan, itu namanya strategi jualan, supaya orang menganggapnya jujur, terus pada beli di situ semua. Di mana-mana, mana ada penjual yang mau rugi. Tuh liat contoh di mol, ada baju diskon 30 persen, tapi sebelumnya dia sudah menaikan dulu harga barangnya 40 persen. Pembelinya senang, padahal dia malah membeli sepuluh persen lebih mahal dari harga biasanya…” kata Bi Mimin.

Kabayan mengangguk-angguk. Soal penjual seperti Mang Ahen tadi, Kabayan nggak mau buruk sangka, ia berdoa supaya Mang Ahen bener-bener jujur, apalagi dia bawa-bawa nama ajengan dan ajaran agama. Ia setuju bahwa di dunia ini nggak ada timbangan yang pas, kecuali timbangan di akhirat nanti. Yaah, kalaupun Mang Ahen –misalnya—nggak jujur, biar saja dia rugi di dunia, kan nanti di akhirat dia yang untung… eh, yang untung si Ambu ding, soalnya yang beli kentang itu si Ambu, bukan dia…. Ini yang gawat, di dunia nggak dapet apa-apa kalo timbangannya kurang, yang ada malah diomelin si Ambu, dan di akhirat juga belum tentu… haduh!

Jumat, 20 April 2012

LPM KOMAPO PEGUNUNGAN BINTANG -PAPUA

SUARA PEMBEBASAN KRITIS MASYARAKAT TERTINDAS

Sekretariat Jalan STM Pembangunan, Gg Bromo No 18 B Depok Sleman Yogyakarta

Sejarah Pers Mahasiswa di Indonesia

Sejarah pers mahasiswa di Indonesia bisa dibilang sama tuanya dengan sejarah gerakan mahasiswa itu sendiri. Pers mahasiswa didefinisikan sebagai pers yang dikelola mahasiswa. Namun rumusan ini memang kurang spesifik, karena ada berbagai macam pers mahasiswa.
Didik Supriyanto membedakan dua jenis pers mahasiswa. Pertama, pers mahasiswa yang diterbitkan oleh mahasiswa di tingkat fakultas atau jurusan. Penerbitan ini biasanya menyajikan hal-hal khusus yang berkaitan dengan bidang studinya. Kedua, pers mahasiswa yang diterbitkan di tingkat universitas. Penerbitan ini menyajikan hal-hal yang bersifat umum.

Dalam penelitian ini, pemilahan dengan mengaitkan pada tingkatan penerbitan (jurusan, fakultas, universitas) itu dianggap tidak relevan. Yang dipandang lebih pas adalah dengan melihat langsung dari materi isinya, apakah bersifat umum atau spesifik keilmuan. Dalam konteks peran pers mahasiswa dalam gerakan mahasiswa, tentu yang lebih relevan adalah pers mahasiswa yang isinya bersifat umum, tidak spesifik keilmuan.

KOMAPO FC PUTRI MENJUARAI AMK CUP

YOGYAKARTA, KOMAPO-Keseblasan KOMAPO FC Putri menjuarai turnamen futsal yang diselenggarakan oleh IKPM-AMK Yogyakarta pada tanggal 18 Februari sampai dengan tanggal 19 februari 2012. KOMAPO FC putri yang dikoordinir oleh Veronika Urpon mampu mengalahkan lawan-lawanya sampai pada masuk final turnamen ini. Pertandingan final KOMAPO FC melawan ….mampu mengalakan lawannya dengan skor…. Dalam pertandingan tersebut menurunkan pemain-pemainnya (1) Veronika Urpon (2) Oliv (3) Rafaela Setamanki (4) Beata Itul (5) Yulia Opki (6) Demeteria Sitokdana (7) Bernike Uropmabin (8) Emy Fransiska A. Tepmul. Turnamen tersebut, sekaligus memborong pemain terbaik dipegang oleh Emy Fransiska A. Tepmul. Veronica Urpon selaku Kapten Tim Futsal Purti KOMAPO

ORANG PAPUA YANG AUTENTIK

Oleh Okurbali T.H. Bidana)*

Di kolom opini, Suara Dimonim edisi XII Maret 2008 memuat tulisannya Theo Kossay yang berjudul “Pemekaran wilayah mendegradasi nilai budaya orang Papua dan identitas orang Papua”. Dengan judul ini dan kita yang membacanya terlintas pertanyaan di benak, sebenarnya apa indentitas orang Papua dan yang mendegradasi itu? Pertanyaan ini mendorong kita untuk mencari tahu dan memberitahukan apa identitas orang Papua dan yang mendegradasi itu. Dalam pemaparan, kita tidak bermaksud mendefinisikan identitas orang Papua tetapi memberikan gambaran indentitas orang Papua yang outentik demi menjaganya di dunia massa, pemekaran dan modernisasi yang mendegradasi nilai dan budaya orang Papua yang Outentik. Untuk menjawab pertanya itu, kita mempunyai beberapa pertanyaan penuntun ini. Dari manakah aku ini datang? Dimanakah aku berada sekarang? Dan kemanakah aku hendak pergi? Dari manakah aku ini datang? Pertanyaan demikian pula yang diajukan kepada Naruekul (mitos suku hubula) “dari manakah kamu berasal”? Ia tidak menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan saya dari daerah ini, keluarga ini. Saya dari Amerika, Eropa dan Afrika. Saya dari keturunan keluarga raja, ratu atau sultan ini melainkan ia hanya mengatakan aku tidak tahu dari mana aku ini datang. Dengan jawaban demikian, orang yang bertanya maupun kita yang mendengar binggung dan penasaran lalu kita masih mengajukan pertanyaan. Sebenarnya, Siapakah orang ini dan darimanakah orang ini dan dengan ini ia hendak berkata apa? Memang membigungkan. Kita binggung karena tidak mengerti maksudnya tetapi kalau kita mengerti apa yang dimaksudkanya, kita dapat mengerti yang dimaksudkannya. Dengan ini sang legenda hanya mau mengatakan tidak berasal dari mana-mana. Ia hendak mengatakan saya adalah saya dari tempat ini dan tinggal di sini seperti yang kamu lihat. Ini kelihatan primitive tetapi itulah cara ia menunjukkan identitas dirinya sebagaimana ia ada.

Kamis, 19 April 2012

KEBERPIHAKAN DAN MENYUARAKAN DEMI KEBENARAN

Menginvestasikan sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan adalah modal awal percepatan pembangunan di berbagai aspek suatu bangsa. Berbagai belahan dunia mengutamakan pendidikan sebagai dasar pijakan memberantas kemiskinan. Mengingat pendidikan adalah hal pokok yang harus diperhatikan oleh bangsa maka berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah pusat, pemeritah daaerah provinsi maupun pemerintah kabupaten. Dalam upaya mempersiapkan SDM yang handal, pemerintah berupaya mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Namun kenyataannya belum direalisasikan, sehingga menghambat dalam mempersiapkan SDM. Dalam rangka mewujudkan pendidikan yang bermutu sesuai dengan tuntutan masyarakat di era global serta perkembangan IPTEK yang telah membawa perubahan pada aspek kehidupan manusia termasuk aspek ekonomi, maka diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dalam arti sebagai insan berilmu pengetahuan, berketerampilan, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, bertanggungjawab dan berupaya mencapai kesejahteraan diri serta memberikan sumbangan terhadap keharmonisan dan kemakmuran keluarga, masyarakat, dan negara.

PERAN PEMUDA DALAM MENGISI PEMBANGUNAN ERA OTONOMI KHUSUS PROVINSI PAPUA

Berikan Aku 10 Pemuda Kugoncangkan Dunia
(Bung Karno)
Pemuda merupakan kreator pembangunan suatu bangsa. Itulah yang didiskusikan oleh mahasiswa KOMAPO di asrama Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pukul 18.00 waktu setempat. Hari jumat tepatnya tanggal 28 Oktober 2011 kita telah memperingati hari sumpa pemuda. Banyak kalangan baik itu akademisi, sejarahwan, sampai pejabat Negara menilai pemuda sekarang tidak ada taringnya, tetapi dulu perjuangan kemerdekaan sampai kemerdekaan dan lengsernya sukarno (orde lama) sampai orde baru, sangat antusias untuk mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemuda semasa orde baru karena dikontrol oleh diktator (pemerintahaan suharto) diwajibkan untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh pemerintah. Kemerdekaan Indonesia pun digerakan oleh pemuda Indonesia, kalo menelusuri sejarah pemuda Indonesia kita ketahui bahwa organisasi Budi utomo pada tahun 1928 dan pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada masa itu pro dan kotra yang sangat sengit antara organisasai pemuda yang diketuai oleh Chaerul Saleh dan kelompok tua diketuai oleh Bung Karno. Kelompok muda mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan indoesia, namun kelompok tua menolak karena berhanggapan bahwa jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Negara Indonesia. Pergerakan organisasi untuk mendesak agar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tidak lain adalah Tan Malaka sangat berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia. Pergerakan pemuda Indonesia masa kemerdekaan sampai masa orlam (orde lama), Orba (orde baru), dan sampai masa reformasi.
Masa reformasi, pemuda Indonesia sangat berperan penting untuk menumbangkan rezim Suharto pada tahun 1999 dengan peristiwa trisakti dan semangi sampai mengorbankan 4 orang mahasiswa ditembak oleh polisi. Pergolakan pemuda dan peran pemuda dalam pembangunan Indonesia mada masa reformasi sangat berperan penting untuk menyumbangkan pikiran,konsep sampai partisipasi dalam melaksanakan tugas sebagai warga Negara. Ketika bergulirnya demokrasi di tanh air banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini. Terutama persoalan wilayah teriorial dengan Negara tetangga seperti Singgapura (masalah selat malaka) dan Malaynisia. Persoalan budaya seperti tarian adat, pakaian adat pun diklaim oleh malaysinisia. Persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme pun meraja lela baik dari pemerintahaan pusat sampai pemerintahaan kampong. Para koruptor baik pejabat Negara, pejabat daerah pun melakukan tindakan korupsi. Namun sayangnya ketegakan hukum di Indonesia sangat rapuh, sehingga para koruptor dengan enaknya masuk keluar sel (tempat) tahanan bagi pejabat Negara ibarat tempat penginapan sementara bagi tikus-tikus koruptor di negeri tercinta ini. Di dalam kondisi yang sangat memprihatinkan ini, peran pemuda dalam mengambil tindakan, mengasa ketajaman intelektual, kreeator pembangunan, belum muncul ranah publik untuk melengser pejabat publik. Mahasiswa (pemuda) masa kini dihadapkan pada konsumerisme. Tidak melihat pada persoalan bangsa. Pemuda sekarang menjadi bingung karena dihadapkan pada instan. Para mahasiwa mengikuti acara bukan empat mata, acara 2 miliar di tv dan lain-lain yang sudah siap untuk meramaikan oleh mahasiswa. Mahsiswa(pemuda) konon adalah suatu pontensi bagi Negara sebagai armada bagi kemajuan bamgsa.peran pemuda sangatlah penting untuk mengisi pembangunan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Dalam situasi yang tumbuh dan berkembang di era globalisasi saat ini, menuntut peran katif pemuda sebagai kekuatan moral, control sosial dan sebagai agen perubahaan bagi semua aspek pembangunan nasional. Namun dilingkungan kampus sebagai basis pemuda belum ada tanda-tanda pengembangan kajian, jurnal ilmiah yang dibublikasikan sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil suatu kebijakan. Peran pemuda dikampus menciptakan kereatif, inofative untuk membangun kampus sebagai media belajar bagi semua orang. Dengan demikian tumbuh subur dalam mengembangkan
Bertolak dari sejarah masuknya bangsa papua masuk ke pangkuan Negara kesatuan republik Indonesia pada tahun 1962. Pada tahun 1963 masyarakat papua mersakan pendidikan seperti layaknya di daerah lain indonesia. Namun tidak semua anak daerah menngenjam ke perguruan tinggi karena dikuasai oleh para kolonialisme (indonesia). Pemuda-pemuda papua pada saat itu mendaptkan pendidikan hingga menamatkan ijasah kesarjanaan dan sekaligus pahlawan bangsa adalah mereka menjadi kepala daerah (gubernur) di papua (irian jaya) seperti Frans Kaisepo, Agup Zainal dan lainnya. Zaman berubah cepat roda pembangunan baik itu perekonomian, teknologi, masuknya budaya luar masuk ke papua.
Zaman semakin hari semakin berubah, kini dihadapkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Arus informasi semakin meluas ke segala penjuru tanah air. Masuknya perkemabngan teknologi membawa suatu perubahaan dan membawa suatu keburukan bagi masyarakat miskin yang tidak tau apa apa. Perubahan dari sisi positif adalah bahwa perkembangan pembangunan fisik, membuka isolasi, percepatan pembangunan ke seluruh pelosok papua. Masyarakat mengenal dunia luar, mengenal pendidikan, kesehatan, menata ekonomi, menatap masa depan. Diberikannya otonomi khsus bagi provinsi papua dan papua brat dengan UU no 21. Tahun 2011 bagi kedua provinsi. Pembangunan papua era otonomi khusus menjadi hal yang tabu bagi masyarakat awam.
Bagaimana dengan pemberdayaan pemuda papua? Tidak digubris hal ini pemerintah daerah tidak memperhatikan sehingga banyak pemuda menganggur di kampong seketika tamat SMA. Tamat SMA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena alasan uang biaya kuliah tidak ada. Pemuda desa nganggur di kampong tidak menikmati uang otonomi khusus yang pada tahun ini mencapai 28 triliun lebih. Pemerintah daerah dalam hal ini KNPI provinsi dan kabupaten tidak memberdayakan pemuda. Uang pemuda hanya digunakan oleh kepentingan pribadi. Ketua KNPI provinsi maupun kabupaten hanya mengenal kegiatan KNPI adalah menyelenggarakan kegiatan olahraga. Aneh jika hanya berpikiran demikian? mengutip dari suara Bung Karno di atas bahwa sejauh mana pemerintah daerah provinsi papua menyiapkan 10 pemuda papua untuk menggoncangkan dunia? Sejauh mana seluruh kabupaten di papua menyiapkan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Sejauh mana seluruh distrik di papua menyiapkan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Sejauh mana seluruh kampong yang tersebar di seluruh papua menyiapakan 10 pemuda untuk goncangkan dunia? Pertanyaan reflektif dan segaligus sindiran pemerintah provinsi sampai pemerintahaan kampong menjadi bahan refleksi untuk dapat memberikan yang terbaik dari yang baik dan merubah pandangan pemuda yang selama ini bagi mereka adalah sepak bola. Pandangan pemerintah daerah (KNPI) alias kuli bangunan pemerintah Indonesia uang pemuda yang dianggarkan oleh pemerintah hanya sebatas pada membeli kostum, membeli bola, dan pada akhirnya menyelenggarakan turnamen sepak bola, volli, basket dan lainnya.
Pemuda sebagai tulang punggung pembangunan perluh diberdayakan tentunya. Sejauh ini hemat penulis pemerintah daerah belum memberdayakan kepada pemuda kampong sampai pemuda yang sedang belajar. Uang pemuda yang dianggarkan diberdayakan SDM-nya melalui mentereningkan dan melakukan pelatihan-pelatihan seperti jurnalistik, mengemudi, bongkar pasang barang elektronik, belajar cara membuat kursi rotan, menjadi tukang bangunan dan lainnya. Banyak hal yang harus dilakukan oleh pemuda papua dengan memanfaatkan uang otonomi khusus yang ada.
Fransiskus Kasipmabin

INDUSTRI MEDIA DIKELAMKAN

Oleh Fransiskus Kasipmabin

Filsuf Ingiris Bertrad Russell, memberi nasihat kepada mahasiswanya “lakukanlah pengamatan sendiri. Seharusnya Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraan bahwa wanita mempunyai jumlah gigi yang lebih sedikit dari pria andaikan ia mau meminta istrinya untuk membuka mulutnya dan menghitungnya sendiri. Menganggap bahwa kita tahu, padahal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan.

Menurut seorang wartawan Tabloit Jubi Papua yang pernah menulis dan dimuat di bloknya sekitar bulan september 2011 bahwa ada seorang teman wartawan pernah menerima amplop dari seseorang pejabat teras Papua. Masalah amplop tidak asing bagi wartawan media-media lokal di Papua. Mengapa harus demikian? Menurut hemat penulis keprofesionalismenya belum ada dan wartawan menyampaikan berita atas dasar kebenaran tidak ada karena disokong dari para pejabat yang notabene takut namanya tercemar di masyarakat umum. Menerima amplop, dengan sendirinya melemahkan kekuatan wartawan. Kekuatan wartawan di sini bahwa apa yang dipikirkan, dirasakan, dilihat, didengar dan terutama keluar dari sembilan elemen jurnalisme menurut Bill Kovach dan Rosentiel. Selain itu, kemungkinan terjadi karena gaji wartawan yang bekerja di beberapa koran lokal di Papua tidak dibayarkan dari perusahaannya, sehingga wartawan melakukan perbuatan demikian. Namun di balik misteri terselubung itu, seharusnya seorang wartawan sebagai seorang independen yang tidak memihak kepada siapa-siapa, tetapi loyalitas wartawan pada kebenaran. Memperkuat pernyataan di atas menurut ketua Forum Komunikasi Mahasiswa dan Pelajar Katolik Papua Daerah DIY dan Jawa Tengah dalam diskusi menyikapi masalah kekerasan di Papua terutama masalah di Timika bahwa media-media lokal di Papua menyampaikan berita kriminal dan atau kasus kekerasan dari aparat keaman (TNI, POLRI,) kepada warga sipil tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Mereka (wartawan) menyampaikan seharusnya menjadi tidak seharusnya. Hal ini tentu sangat prihatin. Prihatin karena para wartawan menulis tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Semua ini terjadi karena kelalaian wartawan atau kebijakan dari direktur perusahaan. Kebijakan dari direktur perusahaan kemungkinan bisa terjadi karena direktur mencari profit. Korporasi-korporasi atau industri media yang ada di Papua dipegang atau dikelola oleh orang asing.
Berbicara jurnalistik pasti akan mengenal sembilan elemen jurnalisme yang ditawarkan oleh Bill Kovach dan Rosenstiel.
1. Kebenaran adalah hal pokok yang harus diperhatikan dalam jurnalistik. Menyampaikan kebenaran kepada publik menjadi prioritas para wartawan.
2. Loyalitas kepada masyarakat dapat diprioritaskan karena menyangkut masalah publik bukan karena kepentingan individualistik.
3. Mementingkan kepentingan umum adalah loyalitas pertama.
4. Disiplin seorang wartawan untuk melakukan perifikasi.
5. Untuk mengetahui apakah yang ditulis itu benar atau tidak, perluh ada pengkajian ulang terhadap suatu objek atau hal dari berbagai sumber untuk memperkuat atas suatu hal yang kita tulis.
6. Seorang wartawan dalam tugasnya adalah bebas atau kebebasan dalam peliputan. Bebas disi berpikir, bebas untuk bertindak, bebas untuk menelaa objek yang dituju. Kebebasan dari sumber yang mereka liput.
7. Selain kebebasan untuk meliput, para wartawan juga sebagai pengontrol keluasaan atas kebijakan peguasa atau pemerintah. Wartwan adalah penjaga watchdog.
8. Elemen berikut adalah menyediakan forum untuk kritik dan saran bagi sebuah karya. Selain menyediakan forum, wartawan juga menulis berita atau sebuah tulisan harus menarik dan relefan sehingga para pembaca dapat dengan mudah memahami isi tulisan tersebut. Maksud relefan disini adalah bahwa sesuai dengan apa yang wartawan tulis. Berita juga proforsional dan komprehensip sehingga masyarakat mengikuti berita atau tulisan tersebut dan masyrakat dapat melakukannya.
9. Hal mendasar bagi seorang wartawan adalah mendengarkan suara hati. Tulislah apa yang dirasa baik dan benar dan dapat bermakna bagi kalayak umum.
Berpikir skeptis adalah hal mendasar bagi seorang wartawan. Skeptis itulah ciri utama atau khas jurnalisme. Dengan demikian berpikirlah skeptis. Karena segala sesuatu pasti berpikir ombang ambing dalam pengambilan keputusan. Tom Frietmand dari Newyork Times mengatakan skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Contoh orang skeptis : saya kira itu tidak benar, saya akan mengeceknya, itu tidak mungkin. Lain halnya dengan sikap sinis. Contohnya saya yakin itu tidak benar, itu tidak mungkin, saya akan menolaknya. Bertindak dan action merupakan ciri khas wartawan. Namun hal ini kurang dilakukan oleh wartawan. Para wartawan kita memperkuat data mereka menelepon ke pihak-pihak yang dikatakan terlibat dalam sebuah kejadian atau mendapatkan opini. Wartawan tidak menungggu sampai peristiwa itu muncul, tapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan. Sayang sekali ketika wartawan tidak melakukan demikian.
Para wartawan yang bekerja di Papua mereka jarang sekali melakukan action di daerah pedalaman pegunungan Papua yang notabene dengan basis kekerasan. Wartawan tidak langsung ke lapangan dan melakukan liputan. Bagaimana mungkin berita yang dikatan benar dan akurat bisa dimuat di Bintang Papua, Cenderawasih Pos. Papua Post dan koran local lainnya. Misalkan saja kita ketahui bersama bahwa sekecilpun para wartawan belum masuk di Pegunungan Bintang kabupaten pemekaran dari Jayawijaya khususnya dan daerah lain secara umum mereka meliput di sana. Beberapa bulan yang lalu berita dari Begununan Bintang muat di Papua Pos berkenaan dengan hari hulang tahun kabupaten yang ke-8. Isi berita tersebut menyampaikan kesuksesan saja tetapi kendala-kendala dan persoalan yang di hadapi oleh pemerintah daerah, masyarakat sekitar akibat perluasan pembangunan fisik, kekerasan yang dilakukan oleh TNI dan POLRI yang bertugas di Oksibil terhadap warga setempat belum disampaikan. Bagaimana mungkin orang lain membantu kita, jika kita menutup diri dari berbagai persoalan? Kesuksesan tidak semua tetapi sedikitpun dibesar-besarkan? Seperti yang disampaikan oleh Drs. Welington Wenda selaku Bupati Pegunungan Bintang di Papuapos. Kalau kita jelih melihat secara baik dan benar dan para wartawan langsung turun ke lapangan pasti dijemput dengan berbagai masalah.
Bill kovach dan rosentiel mengemukakan dalam bukunya yang dikutip oleh Luwi Ishwara disampaikan bahwa jurnalisme mendorong suatu perubahan. Theodore Jay Gordon dari Future Group di Noank, Connecticut bahwa ada empat kekuatan yang mengubah paskah industrialisasi: (1) munculnya abad computer dan dominasi elektronika; (2) globalisasi dari komunikasi, di mana georgafi menjadi kurang penting; (3) perubahan demografi terutama pertambahan orang-orang yang berumur di atas 40 tahun; dan (4) perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Namun demikian, wartawan di Papua belum sadarai. Para wartawan perlu sadari bahwa berjurnalis mendorong suatu perubahan. Dengan teknologi yang ada para wartawan mengunakan sebaik-baiknya dan mengekspous ke publik sehingga orang lain bisa tahu dan membantu kita jika ada kekurangan.
Menjadi wartawan tidaklah gampang. Karena terpanggil menjadi wartawan tidak semuda dibayangkan oleh banyak orang. Menjadi wartawan adalah tujuan muliah. Paus Johanes Paulus II mengatakan: “dengan pengaruh yang luas dan langsung terhadap opini masyarakat, jurnalisme tidak bisa dipandu hanya oleh kekuatan ekonomi, keuntungan dan kepentingan khusus. Jurnalisme haruslah diresapi sebagai tugas suci, dijalankan dengan kesadaran bahwa sarana komunikasi yang sangat kuat telah dipercayakan kepada anda demi kebaikan orang banyak”. Beda dengan pendapat James c. Thomson Jr., Kurartor Nieman Foundation, mengatakan bahwa surat kabar harus mengoperasikan keduannya: mendapatkan uang (setidaknya tidak rugi) dan berbuat baik (mengungkapakan ketidakadilan dengan demikian memperbaiki masyarakat). Kemampuan wartawan dalam kecepatan menulis berita, dan berita tersebut akurat, jujur terhadap kebenaran belum sepenuhnya dilakukan oleh wartawan-wartwan di Indonesia dan Papua pada khususnya. Akurat berarti kita harus mendapatkan informasi yang pasti, yang tidak bisa dibanta. Menjadi wartawan sejati pasti melalui proses setidaknya pendidikan dasar tentang jurnalisme. Pendidikan dasar jurnalis di Indonesia sangat kurang dibandingkan negara tetangga. Pendidikan komunikasi sangat penting untuk mengajarkan kepada mahasiswa yang ingin menjadi wartawan. Pendidikan jurnalis di Papua barangkali belum mendengar dan merasakan bahwa menjadi wartawan harus memproses diri dalam pendidikan, terutama pendidikan tentang jurnalisme. Para penulis yang pernah muncul dari Papua berawal ketika motivasi itu timbul dari diri sendiri. Belum ada dasar yang kuat diperoleh dari orang tua, sehingga cita-cita menjadi wartawan seketika ia mengalami proses pendidikan di perguruan tinggi. Oleh sebab itu ruang untuk berporoses semakin sempit dan pada akhirnya menjadi buntu menghadapi tantangan dan atau persoalan.
Untuk mengangkat kembali persoalan atau potret buram industry media di Papua perlu membuka pendidikan jurnalis di Papua sehingga orang asli Papua yang ingin kuliah di jurnalis bisa mendalami ilmunya. Mendapatkan pendidikan, memproses diri, mengalami, memahami, dan pada akhirnya membongkar persoalan, membebaskan akar ketidakadilan, membuka wacana publik memberikan rekomendasi kepada pihak terkait sehingga pada akhirnya pemerintah maupun swasta mengambil kebijakan dengan baik sesuai dengan kebutuhan yang ada. Berbicara pendidikan jurnalis kadangkala membingungkan karena pendidikan jurnalis di Jawa saja belum sebanyak Thailand. Kalau hitung-hitung atau ibarat pendidikan jurnalis di Indonesia ada (3) sedangkan di Thailand ada 5. Sekolah jurnalis di Indonesia masi beroperasi di Pulau Jawa sedangkan di luar Pulau Jawa belum. Dari 69 sekolah jurnalis di Indonesia semua berada di Pulau Jawa, sedangkan di Wilaya Indonesia Timur belum ada (andreas harsono/luwi ishwara).

Tulisan ini disampaikan pada pendidikan dasar jurnalistik (DIKDAS-1) anggota baru KOMAPOnews 2011/2012 di Realino Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

MENGUNGKAP REALITA KEHIDUPAN MASYARAKAT OKBI

Oleh: Ruben Tepmul (Pemuda Distrik Okbi)
Membangun suatu daerah tidak terlepas dari peran serta pemuda-pemudi dalam menggerakkan roda pembangunan. Untuk itu, pada kesempatan ini saya mewakili teman-teman pemuda-pemudi dan masyarakat Okbi ingin mengungkap beberapa fakta-fakta di Distrik Okbi. Realita hidup ini menjadi catatan penting untuk diperhatikan dan dilakukan langkah-langkah kongkrit oleh pihak-pihak yang berwajib. Berikut adalah fakta-faktanya:

Pemerintahan Distrik

Fakta pertama, Pada tanggal 25 Agustus 2010 pelantikan kepala distrik Okbi tepatnya di lapangan sepak bola Distrik Okbi. Usai pelantikan kepala distrik tersebut ia pernah berjanji bahwa “ selama saya menjabat sebagai Kepala Distrik Okbi, masyarakat tidak akan makan ubi (Boneng), saya akan datangkan beras raskin setiap minggu/bulan. Tetapi kenyataannya sampai sekarang janjinya belum ditepati. Fakta kedua, sejak dilantiknya kepala distrik tersebut dana insentif dan ULP tidak lancar sehingga sehingga pegawai sudah tidak beta lagi bekerja di kantor distrik. Fakta ketiga, tanpa sepengetahuan staf distrik, kepala distrik memindahkan tempat tugas stafnya ke tempat lain. Kami berharap pihak berwajib segera mengevaluasi kinerja Kepala Distrik Okbi.

Politik
a. Pada saat kampanye Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang periode 2011-2015, tanggal 5 Oktober 2010 tepatnya di lapangan sepak bola Distrik Okbi, Drs. Welington L Wenda M.Si pernah berjanji bahwa“ kalau saya dipilih lagi menjadi Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, saya tidak membangun dari kabupaten ke distrik tetapi saya akan membangun dari distrik ke kabupaten. Berdasarkan konsep ini, saya akan bangun jalan raya dari distrik Okbi ke Oksibil“. Sudah mau memasuki tahun 2012 belum ada tanda-tanda konkrit yang kami lihat. Untuk itu, kami masyarakat Disrik Okbi menunggu bukti dan bukan kata-kata politik belaka.
b. Kami perlu mengungkapkan fakta yang sejujurnya bahwa setiap kampanye politik di Distrik Okbi, banyak janji-janji manis yang keluar dari mulut politikus-politikus. Sejak hadirnya Kabupaten Pegunungan Bintang, peran DPRD belum terlihat dan tidak ada keterwakilan yang nyata. DPRD yang notabenenya perwakilan masyarakat tetapi mereka tidak memberikan kontribusi yang positif . Tempat tinggal dan fungsi tugas DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang tidak jelas. Dampaknya kami masyarakat Okbi tidak ada ruang untuk menyampaikan aspirasi.

Kesehatan
Keberadaan Kepala Puskemas Abmisibil patut dipertanyakan. Sejak ditugaskan sampai sekarang Kepala Puskesmas tersebut masyarakat tidak tahu di mana tempat tinggal dan tempat tugasnya. Tidak ada komunikasi yang baik dengan stafnya membuat banyak kendala yang mereka hadapi salah satunya adalah keterlambatan pemberian hak-hak stafnya. Lebih ironisnya, banyak fasilitas kesehatan belum terpenuhi. Sebenarnya fasilitas seperti obat-obatan dan perlengkapan lainnya sudah disiapkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang tetapi hanya ulah kepala puskesmas yang tidak urus untuk angkut ke puskesmas Abmisibil. Dampaknya, masyarakat tidak mendapat pelayanan kesehatan yang selayaknya.


Pendidikan

Kondisi pendidikan di Distrik Okbibab perlu saya gambarkan bahwa kendala yang selalu terjadi adalah kurangnya tenaga pengajar atau guru dan fasilitas pendidikan. Di SMA Okbi terdapat 21 guru tetapi yang berada di tempat hanya 4 orang guru sedangkan yang lainnya pergi dan menetap di Jayapura. Di SMP juga sama, banyak guru yang tidak berada di tempat tugas disamping itu kepemimpinan kepala sekolah yang tidak jelas, mengakibatkan guru-guru SMP meninggalkan tugas dan bersarang di Jayapura. Kami belum tahu siapa sebenarnya kepala sekolah SMP Okbibab?. Kami masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah konkrit untuk menyelesaikan persoalan ini. Dampak dari persoalan ini, siswa-siswa tidak mendapatkan pendidikan yang layak sehingga kualitas outputnya rendah. Kami berharap kepala dinas pendidikan segera mengevaluasi sekolah-sekolah di Distrik Okbi

Kerinduhan Masyarakat terhadap Putra daerah Okbi
Sudah banyak kaum intelektuel dari Distrik Okbi yang kerja di legislatif dan eksekutif di Kabupaten Pegunungan Bintang tetapi mereka belum pernah menginjaki kaki di tanah kelahirannya. Tahun demi tahun sudah terlewati menunggu kehadiran mereka di tengah-tengah kami untuk satukan pikiran dan melakukan suatu tindakan nyata demi pembangunan daerah namun sampai sekarang mereka belum pernah hadir di tengah-tengah kami dan memberikan suatu kontribusi positif. Kami belum tahu tempat tinggal mereka yang sebenarnya, apakah mereka di Oksibil? Jayapura? atau Jakarta?. Ada beberapa kaum intelektual asal Distrik Okbi yang pernah datang ke tanah kelahirannya tetapi hanya untuk kepentingan politik belaka, menjadikan kami sebagai objek politik untuk kepentingan perut-perut mereka yang tentunya setelah berhasil mereka berfoya-foya di kota tanpa memikirkan dan mempedulikan masyarakat.


Penulis adalah Pemuda Distrik Okbi
Kabupaten Pegunungan Bintang
Papua

MENTALITAS WIRAUSAHA ORANG PAPUA PEGUNUNGAN BINTANG ERA OTSUS

Oleh Fransiskus Kasipmabin

Suatu ketika Pace Yaklep menghubungi (melalui kontak person) kepada orang tuannya di kampong halaman, tepatnya daerah terpencil di pedalaman papua. Hubungan komunikasi via telpon pun mengalir, tawa, marah, sedih pun telah lalui, keheningan menghampah jagat kehidupan keluarga menjadi saksi bisu kehidupan. Kata orang tua terakhir berpesan kepada Yaklep bahwa “ Anak kuliah baik-baik dan cepat selesai lalu pulang kampong, kami orang tua mu sudah tua, kami berharap cepat selesai dan Tes pegawai negeri (pns) dan menjadi tuan bagi kami”.
Sebuah ilustrasi diatas mengantarkan para pembaca yang budiman untuk mengingatkan kembali atas kondisi perekonomian bangsa paska krisis ekonomi indonesia tahun 1997. Krisis ekonomi tahun 1997 yang menghantam hamper semu sector usaha di Indonesia menyebabkan semakin sempitnya lapangan pekerja yang tersedia. Akibatnya setiap tahun jumlah pekerja yang semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan pola piker para lulusan perguruan tinggi yang oleh max Gunther disebut sanlaritis, yaitu yang bermental buruh atau selalu ingin menjadi pegawai baik pegawai negeri maupun swasta. Untuk mengatasi hal itu, maka pola piker yang suda tertanam kuat tersebut harusdiubah, yaitu dari orang gajian (menerima gaji) menjadi pemberi gajian (pemilik usaha).
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kasmir, SE,. M.M. di beberapa perguruan tinggi swasta (6 PT) di Jakarta bahwa 25 persen ingin membuka usaha (wirausaha) sendiri sedangkan 75 persen ingin menjadi sanlaritis. Responden yang diambil dari mahasiswanya dari tingkat bawah, menengah dan tingkat atas tersebut mewakili mahasiswa Indonesia dierah pada tahun 2005. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 tersebut mengambil kesimpulan bahwa para lulusan sarjana paskah krisis ekonomi tahun 1997 sampai tahun 2005 tidak ingin membuka usahaa karena membutuhkan kurangnya pengetahuan tentang berwirausahaa, mentalitas berwirausahaa, niat serta dukungan pemerintah belum ada, sehingga para sarjana yang baru lulusan dari perguruan tinggi tidak membuka lapangan pekerjaan. Setiap tahun setiap perguruan tinggi di Indonesia meluluskan 2000 sampai2500 sarjana. Pengangguran sarjana semakin meningkat, harga barang melambung tinggi adalah ketidakkonsistensinya Negara ini.
Mentalitas pada dasarnya merupakan keadaan aktifitas jiwa manusia cara berfikir dan kebiasaan. Dengan demikian mentalitas berkaitan dengan wirausaha, maka mentalitas pribadi manusia mempengaruhi hasil usaha yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.
Wirausaha adalah orang yang menjalankan usaha atau perusahaan dengan kemungkinan untung atau rugi. Oleh karena itu wirausaha perlu memiliki kesiapan mental, baik untuk menghadapi keadaan merugi maupun untung besar. Sehingga seorang wirausaha harus mempunyai karakteristik khusus yang melekat pada diri seorang wirausaha seperti percaya diri, mempunyai banyak minat, bisa bersepakat, mempunyai ambisi, berjiwa penjelajah, suka mencoba sesuatu. Berikut ini adalah pengertian dan definisi wirausaha menurut beberapa ahli menurut (Joseph C. Schumpeter) Wirausaha adalah orang yang mampu menghancurkan keseimbangan pasar dan kemudian membentuk keseimbangan pasar yang baru dan mengambil keuntungan-keuntungan atas perubahan-perubahan tersebut, menurut (Raymond W.Y. Kao) Wirausaha adalah orang yang mampu menciptakan dan merancang suatu gagasan menjadi realita, menurut (Richard Cantillon) Wirausaha adalah seseorang yang mampu memindahkan atau mengkonversikan sumber-sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ketingkat produktivitas yang lebih tinggi,
Menurut (Schumpeter) Wirausaha merupakan inovator yang tidak selalu menjadi inventor (penemu), dan ( Syamsudin Suryana) Wirausaha adalah seseorang yang memiliki karakteristik percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambil resiko yang wajar, kepemimpinan yang lugas, kreatif menghasilkan inovasi, serta berorientasi pada masa depan, menurut(Prawirokusumo) Wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumber daya untuk menemukan sesuatu. Menurut hemat saya wiaruasaha merupakan sebuah usaha (baik bentuk fisik maupun nonfisik) dimana usaha tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, disisi lain usaha tersebut bisa gagal karena berbagai sebab.
Papua dalam konteks sumber daya alam yang begitu berlimpah rua baik dumber daya air laut, sumber daya sungai, sumber daya tanah, sumber daya udara yang begitu mensejuhkan bumi papua. Orang papua sendiri memiliki etos kerja keras, untuk mendapatkan, menghasilkan sesuatu yang bermanfaatkan dirinya, keluarga, serta seluruh masyarakat disekitarnya. Sumber daya air laut memiliki berbagai macam sumber daya yang berlimpah di laut fasifik, selat bumi cenderawasih dan selat lainnya yang ada di wilayah papua maupun papua barat. Misalnya ikan, berbagai macam bunga dan sayuran yang tumbuh di dasar laut, kepiting, kura-kura dan berbagai jenis sumber daya lainnya. Sumber daya alam (di darat) seperti rotan, kayu besi, kayu putih dan lainnnya.
Kesiapan sumber daya manusia papua dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Ketika diberikan otonomi khusus, SDM papua suda dikatakan mengalami peningkatan diberbagai bidang. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi informasi yang semakin berkembang, tentunya merupakan motor dorongan bagi regerasi bangsa papua dan pemangku kepentingan pendidikan di provinsi papua maupun provinsi papua untuk membuka cakrawala berpikir, bekerja sama dengan pihak-pihak terkait terutama lembaga pendidikan di dalam maupun luar negeri guna mencerdaskan generasi papua. Menyiapkan SDM yang handal melaui jalur kerja sama, seperti yang dilakukan oleh beberapa kabupaten di provinsi papua maupun provinsi papua barat, seperti kabupaten pegunungan bintang bekerja sama dengan Universitas Snata Dharma Yogyakarta, Kabupaten sosrong selatan bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yogyakarta, Kabupaten merauke setiap tahun mengirim anak-anak ke Surya Institut. Selain itu pemerintah daerah provinsi papua bekerja sama dengan atase pendidikan di perancis guna menyiapkan SDM Orang Asli Papua (Drs.Jhony Pelupessy kepala bidang pengembangan SDM Asli Papua, 31 agustus 2011), serta 200 anak berbakat krim ke luar negeri (DR. Zhakarias Giay, SKM, M.Kes.,MM) selaku kepala badan SDM Papua.
Setiap tahun beberapa Perguruan Tinggi di papua meluluskan ratusan sarjana sampai dengan ribuan sarja, baik sarjana ekonomi, sarja pemerintahan, sosiologi, eksata. Para lulusan sarjana masih saja mengalami kesulitan dalam membuka pekerjaan. Para lulusan perguruan tinggi di papua dalam kehidupan dan perkerjaannya terkesan tidak sesuai dengan harapan, kejangkalan dalam mengemban tugasnya. Terbukti setiap tahun kelulusan sarjana di bebrapa perguruan tinggi swasta maupun negeri di daerah papua, mereka tidak mau membuka usaha kecil-kecilan, tetapi mereka ingin menjadi Pegawai negeri sipil (PNS) kuli bangun pemerintah, kuli bangunan swasta, sehingga mereka tunggu pengangkatan PNS di daerah maupun provinsi. Hal ini menjadi perhatian serius oleh sejumlah pihak, terutama pengelola perguruan tinggi, orang tua sebagai basis pengembangan pengetahuan bagi anak, pemerintah sebagai pendorong anak untuk sekolah dan kuliah (biaya pendidikan). Sector penting yang harus diutamakan dalam membiayai pendidikan daerah, harus melihat kebutuhan daerah, apa yang dibutuhkan daerah maka, pemerintah harus konsisten mengirim anak dan membiayai kebutuhan kuliah sampai selesai dan ditempatkan pada lapangan pekerjaan yang disediakan.
Kemampuan orang papua terutama anak-anak muda papua yang berlatar belakang pendidikan sampai sekarang ini pun belum memiliki kemampuan dalam wirausaha, walaupun bergelar sarjana ekonomi tetapi kemudian pertannyaan yang muncul adalah sejauh mana kemampuan sarja ekonomi papua terutama sarjana ekonomi pegunungan bintang mampu mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya di dalam masyarakat dalam bentuk-bentuk nyata (konkrit)?. Sangat lucu dan konyol jika para sarjana ekonomi maupun sarjana yang lain pernah mendapatkan mata kuliah kewirausahaan di perguruan tinggi (TP), tetapi kemudian tidak mampu untuk diterapkan di lapangan, apa lagi di kabupaten-kabupaten baru alias kabupaten pemekaran di papua memberikan seluas-luasnya kepada orang asli papua untuk berwirausahaa, mengendalikan sector ekonomi, social, budaya, kesehatan dan lainnya. Tetapi itu semua sia-sia belaka, semua sarjana papua lari ke PNS, ingin menjadi politisi, ingin menjadi SV, PT dan lainnya yang suda disediakan oleh pemerintah republic ini.
Perluh ada pengkajian ilmiah atas indicator-indikator yang sering terjadi ini, tanpa ada perubahan di tinggkat masyarakat papua, terutama sarja sebagai pembaharu dan pendorong peradaban baru, tetapi kemudian persoaan tersebut dibiarkan dan berkembang dan akan menjamur menjadi kebiasaan bagi setiap insane orang papua, sehingga terjadi muncul orang papua bermental pecundang, bermental pemohon (proposal), atau orang papua bermental ketergantungan. Perlu berubah pola piker yang selama ini dibangun dari nenek moyang sampai pada sekarang ini, kemungkinan indicator ini terjadi karena orang papua belum mengalami dan merasakan atas bebrapa fase kehidupan karena orang papua dari masa tradisional langsung lewat ke masa teknologi iniformasi. Beberapa fase seperti masa penjajahan, masa industrialisasi, sehingga orang papua sekarang ini berada pada masa penjajahan, siapa saja para koloni itu? Pertanyaan ini perluh melihat kembali atas situasi sekarang ini, menurut hemat penulis adalah yang menjajah orang papua adalah pejabat papua itu sendiri (pejabat kaki tangan indonesia) dan pemerintah indosesia. Pejabat papua menjajah orang papua karena kita tau bersama bahwa uang rakyat (masyarakat) disedot oleh pejabat papua dan pemerintah Indonesia. Bantuan-bantuan luar negeri melalui lembaga internasional seperti IMF, WHO dan lainnya dapat disedot dan dimasukan oleh perut bermental makan ini.
Orang papua sendiri juga mempunyai sosialis yang lebih tinggi. Pandangan sosialis sudah terbangun dari nenekmoyang sampai sekarang, dengan demikian karena bermental sosialis maka orang muda papua sekrang ini tidak bekerja keras, ingin bermental pemohon. Dengan demikian saya mengulas beberapa parah ahli sosialis untuk membantu dalam membangun pola piker sosialis orang papua yang selama ini diterapkan. Berikut pandangan para ahli sosialis dunia, laude-Henri de Saint-Simon, Sang Bapak Sosialisme dunia. Menurutnya sentralisasi perencanaan sistem ekonomi pemerintah adalah hal yang harus di utamakan. Masyarakat industri akan menjadi baik apabila diorganisaikan secara baik. Dan pemerintah harus memiliki peran penting di dalamnya. Peran sentral para kapitalis sebaiknya dibatasi oleh wewenang pemerintah dalam perekonomian.
F.M. Charles Fourier, kaum borjuis yang olehnya adalah orang-orang cacat sosial. Demi kepentingan mereka sendiri, kaum buruh ditindas. Hal ini yang olehnya disebut sebagai sebuah pertentangan kelas terselubung, dan bila dibiarkaan maka harmoni masyarakat akan rusak. Untuk menyelesaikan hal ini, ia menganjurkan akan sebuah reorganisasi masyarakat Reorganisasi masyarakat ini dapat dilakukan dengan memisahkan kelompok-kelompok politik dan ekonomi. Opsi kedua yang ia tawarkan adalah dengan memberikan individu-individu kebebasan memilih pekerjaan. Meskipun nampak memberikan jalan keluar namun ide-idenya ini hanya dianggap sebagai sebuah ide utopian yang tidak bisa diwujudkan.
Louis Blanc satu dari orang-orang sosialis yang benar-benar ingin mengangkat kaum buruh. Kaum buruh olehnya harus menjadi prioritas pemerintah dalam menentukan kebijakan. Dan bentuk konkrit dari prioritas itu adalah dengan menyediakan kapital-kapital bagi kaum buruh. Setelah kapital-kapital itu disediakan maka kaum buruh diberi wewenang untuk mengelola pabrik-pabrik yang ada. Ide inipun bernasib sama dengan gagasan Fourier, di tolak dan dibuang jauh di dalam cerobong pabrik kapitalisme. Namun di balik itu, ada hal lain yang menyebabkan ide ini di tolak, merugikan politisi dan ekonom.
Karl Marx. Ide dasar yang membawanya pada sentralisasi murni sistem perekonomian adalah individualisme. Satu paham yang ditentangnya ini dianggap sebagai agen yang membuat masyarakat terkotak-kotak dalam kelas-kelas (Klassengesellschaft) sosial. Kelas-kelas sosial inilah yang olehnya ingin dihilangkan. Kelas sosial ini akan menimbulkan ketimpangan dalam masyarakat, kaum buruh akan semakin tertekan dengan kelas sosialnya. Sebaliknya kaum borjuis akan semakin berjaya. Maka untuk menghilangkan hal itu maka sistem perekonomia harus disentralisasi dengan memusatkan perekonomian itu pada pemerintah. Dengan sistem yang baru ini maka pemerataan akan dapat dilakukan, tidak ada lagi kepemilikan pribadi, yang ada hanya milik bersama secara kolektif. The Communist Manifesto adalah salah satu karya monumental Marx yang melukiskan keradikalanya sebagai seorang sosialis.
Dalam perkembangannya, kaum sosialis tumbuh menjadi aliran yang lebih radikal. Ajaran yang digunakan kaum ini lebih berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai, yaitu membentuk masyarakat sosialis dunia. Seringkali upaya-upaya yang mereka lakukan keluar jauh dari mainstream paham sosialis. Anarkisme, pembantaian dan bahkan mengorbankan bagian dari golongan mereka sendiri, semua itu sah-sah saja. Paham sosialis radikal ini berasal dari ajaran-ajaran Bakunin (1814-1876). Ajaran ini menemukan bentuknya yang paling mengerikan, ketika Rusia menjadi pusat sosialis dunia, era Lenin. Di sini militerisme menjadi alat sosialisme untuk melakukan segala tindak tanduknya. Paradigma masyarakat dunia pun berubah. Sebuah bayangan ketakutan akan muncul apabila nama sosialisme disebut. Sosialisme tidak lagi peduli dengan buruh-buruh di pabrik-pabrik para kapitalis, atau memikirkan bagaimana kesenjangan ekonomi dapat segera di atasi, tapi ia menjadi sibuk dengan urusan para elit-elit penguasa yang haus kekuasaan dan kekayaan (kapitalisme, sosialisme, dan system ekonomi Indonesia/puetra bumi).
Sosialis orang papua yang selam ini dikembangakan oleh para orang tua dari dulu, pejabat sekarang sampai pada anak-anak juga menjadi kebiasaan adalah sosialis bermental pecundang, pemohon, peminta. Paham sosialis ini akan menjadi cambuk bagi sesame karena memberikan suap tanpa ada usaha yang dilakukan untuk makan sendiri.

Rabu, 11 April 2012

NASIB RAKYAT DIABAIKAN OLEH WAKIL RAKRAT

Judul film: Wakil Rakyat
Oleh: Tim KOMAPO NEWS
Yogyakarta, KOMNEWS- Pada hari itu (23-09/2011) menyelang malam skitar pukul 17.00 sebuah kos putra yang berukuran 2x5 meter yang ditempati oleh beberapa anak kos (ANKOS) di belakang kampus satu Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dipenuhi oleh orang. Mereka adalah terpanggil untuk menyelamatkan masyarakat dari penindasan, ketidakadilan, penyalagunaan kekuasaan, penyalagunaan wewenang dan masih banyak lagi yang harus dilaksanakan atau diberantaskan oleh regenerasi muda sekarang ini terutama korupsi yang tidak henti-hentinya berkembang subur bahkan sampai Negara Indonesia mendapatkan rangking ke empat tingkat Asia Tenggara, kemungkinan akan menjadi juara pertama atau ke dua nantinya. Sangat ironis jika Indonesia mendapatkan rangking ke-empat dalam hal korupsi. Hal ini patut di soroti oleh masyrakat sebagai kaum awam dan mahasiswa sebagai kaum intelektual kepada pemerintahaan Peresiden SBY. Disanalah satu sisi lemahnya tingkat kepercayaan masyrakat terhadap kepemimpinan SBY. Penanganan kasus korupsi sangat lemah sehingga terjadi banyak kasus di tanah air tercinta Indonesia.
Hari semakin sore, mata hari pelan-pelan tenggelam di ufuk barat kota Yogyakarta. Bunyi motor semakin menjadi-jadi hingga tenggelam dalam keheningan, aktifitas kuliah berakhir keramaian kampus pun pulih kembali di antara gedung-gedung kampus megah. Sekelompok orang berdatangan di kos putra di belakang kampus tersebut. Kini mereka menantikan pemilik kos untuk ijin kepada ketua RT setempat dalam rangka nonton bersama seluruh Anggota KOMAPONEWS. Nonton dan diskusi bersama tentang film yang berjudul “Wakil Rakyat” tersebut merupakan program rutinitas mingguan yang diprogramkan oleh BPH KOMAPO NEWS periode 2011/2013. Lampu kos matikan bunyi musik dan cahaya pantulan slaeit video di dinding telah menerangi ruangan tersebut. Sekitar 15-an orang di dalam ruangan tersebut hanyut dalam keheningan, dibawa sorak sorai para wakil rakyat. Tawa, sedih, rasa tidak enak, bercampur keganasan menyelimuti di antara peserta yang mengadakan nonton bersama. Suara-suara menyelma menjadi suara kenabihan atau surah roh yang adalah untuk membebaskan masyarakat dari kebohongan para wakil rakyat baik itu legislative, eksekutif, maupun pemimpin-pemimpin LSM yang notabene dengan penindasan hak-hak dasar warga masyarakat sebagai makluk sosial yang bebas untuk menyuarakan, bergerak bebas, mengemukakan pendapat, menuntut hak hakiki mereka. Sebuah film yang mengisahkan betapa hebatnya wakil rakyat di negeri ini yang tidak mempunyai hati yang mendalam untuk bangsa. Dengan demikian beberapa pertanyaan yang menjadi pedoman atau peta untuk mengupas isi film yaitu bagaimana nasip rakyat? Yang ke dua adalah apa yang dilakukan wakil rakyat? Pertanyaan mendasar ini menjadi pijakan diskusi anggota KOMAPO NEWS. Berikut hasil diskusi anggota KOMAPO NEWS yang kami liput.
Film ini menggambarkan bagaimana nasip rakyat di bawah kepemimpinan para wakil rakyat baik dari pusat sampai dengan daerah-daerah di seluruh Indonesia. Pada saat kampanye, dengan percaya diri mereka menyampaikan semu hal yang akan dilakukan di hadapan masyarakat. Bahkan berjanji akan melakukan perubahan di depan masyarakatnya. Tidak hanya itu, mereka pun memberikan berbagai sokongan seperti uang dan berbagai jenis makanan. Dengan tujuan mencari perhatian masyarakat supaya pada saat pemilihan nantinya masyarkat dapat memilihnya menjadi anggota dewan.
Jika kita mempelajari orang Amerika, mereka akan menjadi pemimpin dengan syarat dia harus kaya dahulu baru mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Tetapi bagi kita di Negara ini tidak demikian. para wakil rakyat di negara kita ini mencalonkan diri karena dia ingin kaya. Hal ini menandakan bahwa tidak ada motivasi untuk membagun tetapi hanya mau memanfaatkan keadaan untuk menjadi kaya. Tujuan setiap orang tentu saja ingin membangun, ingin daerahnya maju sama seperti di daerah- daerah atau Negara lain. Namun kenyataannya tidak demikian hanya 20% saja yang bisa dikatakan sudah terlaksana atau dirasakan oleh masyarakat, tetapi 80% belum terlaksana.
Tidak semua wakil rakyat bekerja dengan sepenuh hati. Banyak wakil rakyat menyampaikan rencana berapi-api mereka pada saat kampanye namun kenyataannya tidak. Secara kasar kinerja para wakikl rakyat kita hanya berfoya-foya tidak pernah memikirkan rakyatnya. Di Indonesia baik dari pusat maupun daerah- daerah berlombah- lombah menjadi wakil rakyat pada akhirnya menjadi musuh padahal sebelumnya adalah teman. Kenyataanya sebagian besar orang hanya memikirkan diri sendiri tanpa mengingat janji mereka saat melakukan kampanye. Strategi yang digunakan untuk menarik perhatian orang adalah dengan menyokong masyarakat dengan memberikan uang atau makanan supaya masyarakat memberikan suara kepadanya. Menjadi pemimpin tidak mudah, namun sebagian besar orang di negara ini tidak memiliki modal kepemimpinan namun karena sesuatu hal membuat dia untuk menjadi pemimpin. Seorang pemimpin memerlukan kepercayaan diri, motivasi untuk bekerja jujur, pengetahuan, pengalaman, mampu berkomunikasi. Para pemimpin bekerja tidak dengan hati namun hanya memamnfaatkan masyarakat dan bukan untuk membangun masyarakat.
Bagaimana situasi politik di negara kita ini? Di dalam dunia politik tentu saja tidak berjalan sehat. Di mana- mana di seluruh Indonesia tidak sedikit masyarakat yang menjadi korban politik. Setiap orang yang mencalonkan diri menjadi presiden, gubernur, bupati, dan anggota dewan tentu mempunyai pendukungnya masing-masing. Ini tentu akan membentuk kelompok –kelompok masing-masing dan akan menjadi musuh pada akhirnya masyarkakat akan saling bentrok bahkan saling mebunuh. Tidak hanya masyarkat tetapi para calon pemimpin pun akan menjadi musuh padahal sebelumnya adalah teman. Bahkan suami istri pun menjadi lawan politik pada akhirnya akan bercerai. Sangat lucu para wakil rakyat di negeri ini, seperti film yang berjudul “Lucunya di Negeri ini”
Untuk menjadi wakil rakyat tidak segampang yang dipikirkan oleh sebagian orang menjadi wakil tentu mengorbankan segalanya yang ia miliki. Uang bisa membuat orang buta akan segala-galanya bahkan bisa kehilangan atau membunuh karakter sesorang. Wakil rakyat hanya memiliki budaya konsumeristis (ingin memilki sesuatu yang dimiliki oleh orang lain/gengsi). Proses untuk menjadi pemimpin sangat penting. Politikus mempunyai visi dan misi yang jelas dan terarah dan pada aplikasinya tepat pada sasaran jika tidak demikian maka impiannya pun tak akan terwujud. Pemimpin mempunyai mimpi untuk mewujudkan sesuatu yang diimpikan.
Menjadi seorang anggota dewan terbuka buat siapa saja. Namun demikian kita mesti mengetahui salah satu kata atau istilah ekonomi yang mengatakan bahwa jika seseorang ingin memiliki atau membeli sesuatu namun tidak mampu atau tidak punya uang maka sia-sialah keinginannya itu. Ini menandakan bahwa kita berkeinginan menjadi anggota dewan kita harus mengukur sejauh mana kemampuan saya terlebih dahulu sebelum mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Jika tidak demikian maka selama menjadi anggota dewan tidak akan pernah menanggapi aspirasi masyarakat bahkan kinerjanya tidak akan berjalan lancar. Seorang yang berhasil dalam pembangunan adalah orang yang memiliki mimpi atau program kerja yang jelas, tanpa impian semuanya tak ada artinya atau membohongi diri sendiri.
Semoga menjadi catatan penting buat para pembaca. Diliput oleh: (Akkis dan Fra

NASIB RAKYAT DIABAIKAN OLEH WAKIL RAKRAT

Judul film: Wakil Rakyat
Oleh: Tim KOMAPO NEWS
Yogyakarta, KOMNEWS- Pada hari itu (23-09/2011) menyelang malam skitar pukul 17.00 sebuah kos putra yang berukuran 2x5 meter yang ditempati oleh beberapa anak kos (ANKOS) di belakang kampus satu Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dipenuhi oleh orang. Mereka adalah terpanggil untuk menyelamatkan masyarakat dari penindasan, ketidakadilan, penyalagunaan kekuasaan, penyalagunaan wewenang dan masih banyak lagi yang harus dilaksanakan atau diberantaskan oleh regenerasi muda sekarang ini terutama korupsi yang tidak henti-hentinya berkembang subur bahkan sampai Negara Indonesia mendapatkan rangking ke empat tingkat Asia Tenggara, kemungkinan akan menjadi juara pertama atau ke dua nantinya. Sangat ironis jika Indonesia mendapatkan rangking ke-empat dalam hal korupsi. Hal ini patut di soroti oleh masyrakat sebagai kaum awam dan mahasiswa sebagai kaum intelektual kepada pemerintahaan Peresiden SBY. Disanalah satu sisi lemahnya tingkat kepercayaan masyrakat terhadap kepemimpinan SBY. Penanganan kasus korupsi sangat lemah sehingga terjadi banyak kasus di tanah air tercinta Indonesia.
Hari semakin sore, mata hari pelan-pelan tenggelam di ufuk barat kota Yogyakarta. Bunyi motor semakin menjadi-jadi hingga tenggelam dalam keheningan, aktifitas kuliah berakhir keramaian kampus pun pulih kembali di antara gedung-gedung kampus megah. Sekelompok orang berdatangan di kos putra di belakang kampus tersebut. Kini mereka menantikan pemilik kos untuk ijin kepada ketua RT setempat dalam rangka nonton bersama seluruh Anggota KOMAPONEWS. Nonton dan diskusi bersama tentang film yang berjudul “Wakil Rakyat” tersebut merupakan program rutinitas mingguan yang diprogramkan oleh BPH KOMAPO NEWS periode 2011/2013. Lampu kos matikan bunyi musik dan cahaya pantulan slaeit video di dinding telah menerangi ruangan tersebut. Sekitar 15-an orang di dalam ruangan tersebut hanyut dalam keheningan, dibawa sorak sorai para wakil rakyat. Tawa, sedih, rasa tidak enak, bercampur keganasan menyelimuti di antara peserta yang mengadakan nonton bersama. Suara-suara menyelma menjadi suara kenabihan atau surah roh yang adalah untuk membebaskan masyarakat dari kebohongan para wakil rakyat baik itu legislative, eksekutif, maupun pemimpin-pemimpin LSM yang notabene dengan penindasan hak-hak dasar warga masyarakat sebagai makluk sosial yang bebas untuk menyuarakan, bergerak bebas, mengemukakan pendapat, menuntut hak hakiki mereka. Sebuah film yang mengisahkan betapa hebatnya wakil rakyat di negeri ini yang tidak mempunyai hati yang mendalam untuk bangsa. Dengan demikian beberapa pertanyaan yang menjadi pedoman atau peta untuk mengupas isi film yaitu bagaimana nasip rakyat? Yang ke dua adalah apa yang dilakukan wakil rakyat? Pertanyaan mendasar ini menjadi pijakan diskusi anggota KOMAPO NEWS. Berikut hasil diskusi anggota KOMAPO NEWS yang kami liput.
Film ini menggambarkan bagaimana nasip rakyat di bawah kepemimpinan para wakil rakyat baik dari pusat sampai dengan daerah-daerah di seluruh Indonesia. Pada saat kampanye, dengan percaya diri mereka menyampaikan semu hal yang akan dilakukan di hadapan masyarakat. Bahkan berjanji akan melakukan perubahan di depan masyarakatnya. Tidak hanya itu, mereka pun memberikan berbagai sokongan seperti uang dan berbagai jenis makanan. Dengan tujuan mencari perhatian masyarakat supaya pada saat pemilihan nantinya masyarkat dapat memilihnya menjadi anggota dewan.
Jika kita mempelajari orang Amerika, mereka akan menjadi pemimpin dengan syarat dia harus kaya dahulu baru mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Tetapi bagi kita di Negara ini tidak demikian. para wakil rakyat di negara kita ini mencalonkan diri karena dia ingin kaya. Hal ini menandakan bahwa tidak ada motivasi untuk membagun tetapi hanya mau memanfaatkan keadaan untuk menjadi kaya. Tujuan setiap orang tentu saja ingin membangun, ingin daerahnya maju sama seperti di daerah- daerah atau Negara lain. Namun kenyataannya tidak demikian hanya 20% saja yang bisa dikatakan sudah terlaksana atau dirasakan oleh masyarakat, tetapi 80% belum terlaksana.
Tidak semua wakil rakyat bekerja dengan sepenuh hati. Banyak wakil rakyat menyampaikan rencana berapi-api mereka pada saat kampanye namun kenyataannya tidak. Secara kasar kinerja para wakikl rakyat kita hanya berfoya-foya tidak pernah memikirkan rakyatnya. Di Indonesia baik dari pusat maupun daerah- daerah berlombah- lombah menjadi wakil rakyat pada akhirnya menjadi musuh padahal sebelumnya adalah teman. Kenyataanya sebagian besar orang hanya memikirkan diri sendiri tanpa mengingat janji mereka saat melakukan kampanye. Strategi yang digunakan untuk menarik perhatian orang adalah dengan menyokong masyarakat dengan memberikan uang atau makanan supaya masyarakat memberikan suara kepadanya. Menjadi pemimpin tidak mudah, namun sebagian besar orang di negara ini tidak memiliki modal kepemimpinan namun karena sesuatu hal membuat dia untuk menjadi pemimpin. Seorang pemimpin memerlukan kepercayaan diri, motivasi untuk bekerja jujur, pengetahuan, pengalaman, mampu berkomunikasi. Para pemimpin bekerja tidak dengan hati namun hanya memamnfaatkan masyarakat dan bukan untuk membangun masyarakat.
Bagaimana situasi politik di negara kita ini? Di dalam dunia politik tentu saja tidak berjalan sehat. Di mana- mana di seluruh Indonesia tidak sedikit masyarakat yang menjadi korban politik. Setiap orang yang mencalonkan diri menjadi presiden, gubernur, bupati, dan anggota dewan tentu mempunyai pendukungnya masing-masing. Ini tentu akan membentuk kelompok –kelompok masing-masing dan akan menjadi musuh pada akhirnya masyarkakat akan saling bentrok bahkan saling mebunuh. Tidak hanya masyarkat tetapi para calon pemimpin pun akan menjadi musuh padahal sebelumnya adalah teman. Bahkan suami istri pun menjadi lawan politik pada akhirnya akan bercerai. Sangat lucu para wakil rakyat di negeri ini, seperti film yang berjudul “Lucunya di Negeri ini”
Untuk menjadi wakil rakyat tidak segampang yang dipikirkan oleh sebagian orang menjadi wakil tentu mengorbankan segalanya yang ia miliki. Uang bisa membuat orang buta akan segala-galanya bahkan bisa kehilangan atau membunuh karakter sesorang. Wakil rakyat hanya memiliki budaya konsumeristis (ingin memilki sesuatu yang dimiliki oleh orang lain/gengsi). Proses untuk menjadi pemimpin sangat penting. Politikus mempunyai visi dan misi yang jelas dan terarah dan pada aplikasinya tepat pada sasaran jika tidak demikian maka impiannya pun tak akan terwujud. Pemimpin mempunyai mimpi untuk mewujudkan sesuatu yang diimpikan.
Menjadi seorang anggota dewan terbuka buat siapa saja. Namun demikian kita mesti mengetahui salah satu kata atau istilah ekonomi yang mengatakan bahwa jika seseorang ingin memiliki atau membeli sesuatu namun tidak mampu atau tidak punya uang maka sia-sialah keinginannya itu. Ini menandakan bahwa kita berkeinginan menjadi anggota dewan kita harus mengukur sejauh mana kemampuan saya terlebih dahulu sebelum mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Jika tidak demikian maka selama menjadi anggota dewan tidak akan pernah menanggapi aspirasi masyarakat bahkan kinerjanya tidak akan berjalan lancar. Seorang yang berhasil dalam pembangunan adalah orang yang memiliki mimpi atau program kerja yang jelas, tanpa impian semuanya tak ada artinya atau membohongi diri sendiri.
Semoga menjadi catatan penting buat para pembaca. Diliput oleh: (Akkis dan Fra

BERJURNALIS SANG PEMBEBAS AKAR KETIDAKJUJURAN

JUDUL FILM: VERONIC GUERIN
Oleh Fransiskus Kasipmabin
Diskusi tentang jurnalis memang tidak habis-habisnya, ketika team KOMAPO NEWS menonton dan mendiskusikan tentang sebuah film kisah seorang perempuan wartawan Koran Independet Negara irlandia yang berjuang untuk membongkar akar selubungnya narkoba oleh pengusaha dan segaligus sebagai salah satu perdagangan yang notabene dengan politik. Mengapa dikatakan politik? Karena UU tentang narkoba, narkotika tidak ada di irlandia, yang mengedarkan nakoba para politikus, para penguasa, sehingga tidak Veronica Gurein, dididik untuk menjadi akuntan, namun dia melihat situasi di irlandia sangat tidak menentu karena dilanda narkoba, anak-anak di bawah umur memakai narkoba banyak orang menjadi korban. Situasi ini membuat veronica Gurein terjun kedalam jurnalis untuk meliput berita-berita narkoba. Kisa veronica selama wartawanmenjadi indpirasi bagi para wartawan dunia, bahkan seorang perempuan ini mengorbankan dirinya, ditembak oleh para geng narkoba, sehingga dia meninggal dunia meninggalkan anak dan suami selamanya.
Bukan lelucon atau cerita fiktip belaka tetapi, ini mengingatkan kemabli kepada para wartawan di dunia untuk berjunalis karena profesinya tetapi karena keterpanggilan menjadi seorang pembebas ketidakjujuran, ketidakadilan, membebaskan peraktek-peraktek yang tidak sesuai dengan mata public, kebijakan pemerintah yang tidak mengarah pada kepentingan umum, dan lainnya. Menengok kembali kepada para wartawan Indonesia bahwa banyak sekali peraktek-peraktek yang dilakukan oleh para wartawan lembaga-lembaga pers di Indonesia dengan mementingkan perusahaannya sedangkan apa yang seharusnya disampaikan mengesampingkan. Selain itu para wartawan Indonesia menerima ampelop. Berita yang ditulis tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Korporasi-korporasi pers di Indonesia keluar dari fungsinya, lembaga pers di Indonesia di kuasai oleh para politikus, sehingga arah gerak tidak jelas. Untuk menjadi seorang jurnalis memang sulit bagi semua orang, memang semua orang adalah wartawan, tetapi yang terpanggil menjadi seorang wartawan sejati tidak semua orang . Terpuruknya wartwan, menjadi kendala dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Nilai keprofesionalisme harus dihargai dengan penuh dan dapat dikerjakan sesuai dengan profesi yang dimilikinya.
Mengingatkan saya bahwa sebuah kisah atau pengalaman seorang wartawan Tabloit Jubi yang pernah dimuat di blok tabloid JUBI Papua alias jujur bicara orang papua bahwa pernah menerima ampelop dari seseorang pejabat papua. Bagaimana mungkin mau jujur bicara jika pada prinsipnya melakkan hal demikian? Aneh jika para wartawan Indonesia melakukan demikian? mungkin ini terjadi dari era diktator, reformasi sampai sekarang era demokrasi. Dengan demikian banyak persoalan yang belum tertuntaskan baik itu korupsi yang notabene dengan budaya Indonesia, pelanggaran HAM, penindasan minoritas dari kelompok mayoritas, penindasan pendidikan, kesehatan, bahkan sampai kekerasan dalam kelas-kelas sosial yang belum diangkat dan di publikasikan oleh seorang wartawan dan media yang ada di indoensia.
Industry media yang ada di Indonesia melihat dan menginformasikan masalah-masalah yang terjadi di Papua belum pernah dengan jujur, nyata, sesuai dengan fakta, menginformasikan kepada public melaui cenel-cenel atau televise Indonesia. Media local, media nasional, dan maupun internasional juga melakukan pembohongan public. Tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan. Aneh dan konyol jika media-media yang ada di Indonesia melakukan hal demikian? dikemanakan fungsi media itu? Kita tau bersama bahwa kejadian-kejadian yang terjadi di papua baik itu masalah kelas-kelas sosial, masalah kesukuan, korupsi, penindasasan dari politik,ekonomi, sosial, budaya tidak semuannya diinformasikan. Yang sudah disampaikan pun tidak sesuai dengan kenyataan. Penindasan dari media oleh kaum borjulis (penjajah) pemerintah Indonesia seketika bangsa Papua masuk ke NKRI. Hal ini menjadi tekanan psikologi bagi warga yang menjadi korban karena berita yang disampaikan tidak sesuai dengan yang dialaminya. Di daerah lain di Indonesia terutama Jawa dan Bali dengan sejujurnya menyampaikan informasi baik itu kejadian apa puan, sedangkan provinsi di luar jawa dan bali jarang menginformasikan. Masyarakat papua membutuhkan transpransi media dalam menginformasikan masalah-masalah sesuai dengan yang sebenarnya. Media merupakan salah satu alat komunikasi yang menginformasikan informasi yang menghubungkan dari orang, masyarakat tertentu kepada orang lain sehingga orang atau kelompok lain bisa diketahui. Dengan demikian bencana apapuan bisa diatasi oleh seluruh pihak yang terpanggil untuk membantu. Banyak terjadi penyeludupan manusia illegal ke luar negeri atau alias TKI yang adalah perut pemerintah Indonesia. Kektuatan pemerintah ada pada TKI dengan preefort Indonesia. Jika kedua lumbung pemerintah ini tidak berjalan normal maka, pemerintah indoesia ibarat hidup diatas tanpa bayang-bayang.
Ketidakseriusan industry media dalam meliput persolan bangsa akan menjadi sorotan mata public. Pemerintah mengintidasi industry media. Pemerintah melarang meliput aktifitas pemerintah yang notabene dengan kegiatan internal. Namun semua ini pemerintah melarang atau industry media yang tidak ingin meliput?